Selasa, 14/04/2026 12:07 WIB

Sejarah Hari Ini 14 April: Indonesia Memulai Perundingan Roem-Royen





Lantas, apa sebenarnya Perundingan Roem-Royen? Kenapa perundingan tersebut dilaksakan? Apa yang melatarbelakanginya? Bagaimana sejarahnya?

Ilustrasi Sejarah 14 April, Indonesia Memulai Perundingan Roem-Royen dengan Belanda (Foto: Munasprok)

Jakarta, Jurnas.com - Hari ini 77 tahun silam, tepatnya pada tanggal 14 April 1949, salah satu babak krusial dalam sejarah perjuangan diplomasi Indonesia bernama Perundingan Roem–Royen resmi dimulai di Jakarta. Momentum ini menandai pergeseran strategi perjuangan bangsa, dari perlawanan bersenjata menuju jalur diplomasi internasional.

Lantas, apa sebenarnya Perundingan Roem-Royen? Kenapa perundingan tersebut dilaksakan? Apa yang melatarbelakanginya? Bagaimana sejarahnya? Bagaimana proses perundingan tersebut berlangsung? Bagaimana dampaknya? Berikut ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.

Perundingan ini mempertemukan delegasi Indonesia yang dipimpin Mohammad Roem dengan pihak Belanda di bawah J. H. van Roijen. Prosesnya difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Komisi PBB untuk Indonesia, dengan mediator diplomat Amerika, Merle Cochran.

Pertemuan yang digelar di Hotel Des Indes, Jakarta ini berlangsung hingga 7 Mei 1949 dan menjadi upaya serius mengakhiri konflik pasca Agresi Militer Belanda II. Selain itu, perundingan ini juga menjadi landasan menuju Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Latar belakangnya tidak lepas dari ambisi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Meski berbagai perundingan sebelumnya seperti Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville telah dilakukan, konflik justru terus berlanjut.

Situasi memuncak ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua pada Desember 1948 dan menduduki Yogyakarta. Dalam peristiwa itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap.

Namun, Republik Indonesia tidak runtuh karena dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara. Di sisi lain, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih eksis.

Tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat dan PBB, akhirnya memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Dari sinilah Perundingan Roem–Royen dimulai sebagai jalan tengah untuk meredakan konflik.

Untuk memperkuat posisi, Indonesia menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Ali Sastroamidjojo, Supomo, hingga Johannes Leimena. Kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga menjadi simbol kuat legitimasi Republik.

Dalam salah satu momen penting, Sri Sultan menegaskan posisi Yogyakarta sebagai pusat Republik dengan pernyataan tegasnya. Sikap ini memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah tekanan politik dan militer.

Perundingan berlangsung alot selama hampir satu bulan dalam suasana tegang. Namun pada 7 Mei 1949, kedua pihak mencapai kesepakatan penting yang mengubah arah sejarah.

Indonesia menyatakan kesediaan menghentikan perang gerilya dan ikut dalam Konferensi Meja Bundar. Sementara itu, Belanda sepakat mengembalikan pemerintahan Republik ke Yogyakarta dan membebaskan para pemimpin yang ditahan.

Kesepakatan tersebut segera diikuti langkah konkret di lapangan. Pemerintah Republik kembali ke Yogyakarta pada Juni 1949, disusul penarikan pasukan Belanda dan kembalinya Soekarno serta Hatta pada Juli 1949.

Gencatan senjata kemudian diberlakukan sebagai persiapan menuju Konferensi Meja Bundar. Puncaknya, Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan penuh pada 27 Desember 1949.

Perundingan Roem–Royen menjadi bukti bahwa diplomasi dapat menjadi senjata yang efektif dalam perjuangan bangsa. Peristiwa ini juga menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih tidak hanya di medan perang, tetapi juga melalui negosiasi yang cerdas dan terukur.

Pada peringatan 14 April, sejarah ini kembali mengingatkan bahwa kedaulatan bangsa adalah hasil perjuangan panjang. Dari meja perundingan hingga panggung internasional, Indonesia menunjukkan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaannya. (*)

KEYWORD :

Peristiwa 14 April Sejarah Indonesia Peristiwa Sejarah Perundingan Roem-Royen




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :