Wakil Ketua MPR, Fadel Muhammad. (Foto: Humas MPR)
Gorontalo, Jurnas.com - Dihadapan jamaah Tarekat Naqsabandi Al Kholidi, Wakil Ketua MPR H. Fadel Muhammad mengatakan, bagi para alim, masa pengabdian itu tidak ada batasnya dan tidak akan pernah berhenti. Pengabdian baru akan berhenti setelah datang kematian. Karena itu, para alim tidak mengenal kata pensiun, meski usianya sudah uzur.
Pengabdian tanpa henti kepada agama serta masyarakat, hingga hari tua, kata Fadel juga dilakukan oleh ulama tasawuf dan Mursyid Tarekat Naqsabandi Al Kholidi, Prof. Dr. Kadirun Yahya. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi mereka yang mencari bantuan. Beliau tidak pernah merasa sibuk, untuk membantu masyarakat.
"Saya kenal dekat dengan Prof. Dr. Kadirun Yahya. Saya banyak belajar kepada beliau, dan memiliki pengalaman yang sangat mendalam. Salah satunya saat beliau memberikan batu cincin, dan saya menjadikannya sebagai azimat. Saat saya tengah dalam kesulitan, batu itu saya pakai, Alhamdulillah semua persoalan segera selesai. Beliau juga memiliki pengetahuan dan pandangan yang jauh, bahkan bisa melihat peristiwa sebelum kejadian," ungkap Fadel menambahkan.
Pernyataan itu disampaikan Fadel Muhammad saat menjadi Nara Sumber Temu Tokoh Nasional/Kepemudaan /Keagamaan/civitas akademika, kerjasama MPR dengan Forum Generasi Muda Tarekat Naqsabandi Al Kholidi Provinsi Gorontalo. Acara tersebut berlangsung di Surau Karya / Alqah Zikir Tarekat Almuktabarah Naqsabandi Alkholidi, Kelurahan Dutulanaa, Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo, Senin (29/11/2023) malam.
Menurut Fadel banyak pelajaran yang di peroleh dari Prof. Dr. Kadirun Yahya. Salah satunya menyangkut menata dan menjaga hati. Ini penting karena hidup manusia dipengaruhi hati. Yaitu, segumpal darah dalam tubuh, yang menentukan baik buruknya seseorang. Kalau darah itu baik maka baik semua, demikian sebaliknya, itulah hati.
Lestari Moerdijat: Butuh Keseimbangan antara Ilmu dan Iman untuk Wujudkan Generasi Muda Berdaya Saing
"Salah satu cara menjaga hati yang saya pelajari dari Prof. Dr. Kadirun Yahya, adalah tidak boleh ada prasangka buruk atau su`udhon. Karena prasangka buruk bisa merusak hati," kata Fadel lagi.
Agar jauh dari prasangka buruk salah satu yang harus dilakukan umat manusia adalah selalu bersyukur, seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman dan tersurat pada Alquran Surah An-Naml ayat 40.
Eddy Soeparno Ajak Kolaborasi `Sembuhkan` Sungai dari Pencemaran: Ini Halaman Depan Kita
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Alkitab, `Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.` Maka, tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, `Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau kufur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi," pungkas Fadel.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kinerja MPR Fadel Muhammad Naqsabandi Al Kholidi Kadirun Yahya Gorontalo




























