Rabu, 15/04/2026 09:20 WIB

Perum Bulog Jajaki 11 Produsen Kedelai Dunia





AS jadi pilihan karena paling siap produksinya dan paling sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan pengrajin tempe tahu dalam negeri.

Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso menyalurkan secara perdana 100 ton kepada Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) di Jawa Barat melalui gudang supplier kedelai milik FKS Multi Agro Bekasi, Senin (18/4).

BEKASI, Jurnas.com - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), mulai menyalurkan secara perdana 100 ton kedelai impor Amerika Serikat (AS) kepada Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) di Jawa Barat.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengatakan, pengadaan dan penyaluran kedelai kepada pengrajin tempe tahu akan dilaksanakan selama 4 bulan mulai dari April-Juli 2022 dengan pagu maksimal 200.000 ton per bulan atau total 800.000 ton.

"Kenapa selama 4 bulan? Karena diperkirakan selama 4 bulan ini kita belum bisa memproduksi dari kebutuhan dari dalam negeri yang sedang diupayakan Kementerian Pertanian (Kementan), sehingga kita harus mendatangkan di antaranya dari AS," kata Buwas.

Eks kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menambahkan, AS jadi pilihan karena paling siap produksinya dan paling sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan pengrajin tempe tahu dalam negeri.

"Jadi, Bulog membeli tidak sembarangan kedelai. Kami tanya dulu sama pengrajinnya. Pengrajin tempe tahu yang disukai seperti apa speknya baru kita mendatangkan," kata Buwas.

Buwas juga mengatakan sedang menjajaki 11 negara penghasil kedelai selain Negeri Paman Sam sebagai alternatif untuk memastikan kelancaran distribusi dalam negeri. Di antaranya, Brasil, Argentina, India, dan beberapa negara lainnya.

"Dan, nanti bukan kita ambil dari AS terus. Ada beberapa negara kita jajaki nanti kita coba di laboratorium mana yang paling cocok dan seusai dengan yang diinginkan teman-teman dari pengrajin tahu tempe melalui KOPTI," kata Buwas.

Meski demikian, Buwas mengatakan akan terus mendukung gerakan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo untuk terus berusaha meningkatkan produksi kedelai dalam negeri (lokal).

"Sekali lagi, saya juga tidak berharap kita ketergantungan pada impor karena Mentan juga berusaha meningkat produksi kedelai lokal. LIPI dan UGM telah mengembangkan bibit kedelai lokal yang kualitasnya bagus dan itu akan dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia," sambungya.

Disebutkan Buwas dari total kebutuhan dalam negeri khusunya untuk pengrajin tempe tahu setiap tahun sebesar 2-3,5 juta ton, produksi kedelai lokal baru mampu memenuhi sebesar 500-600 ribu ton.

"Seperti yang disampaikan Bapak Presiden bahwa kita harus mengutamakan lokal. Saya yakin bisa karena negara kita ini negara agraris. Jadi, saya yakin bisa asalkan kita punya semangat dan kemauan dimana dari hulu dan hilirnya termasuk petani-petani kita latih dan dukung dengan perlatan yang modern," sambungnya.

Menurut Buwas, petani dalam negeri masih anginan-anginan mendongkrak produktivitas kedelai karena belum mendapatkan dukungan penuh, salah satunya soal kepastian harga.

"Jadi, petani ini kalau mau nanam kedelai masih angin-anginan, makanya kita belum bisa swasembada kedelai, tapi saya yakin dengan semangat Pak Mentan untuk mengembangkan produksi dalam negeri," ujarnya.

KEYWORD :

Perum Bulog Budi Waseso Produsen Kedelai Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :