Rabu, 15/07/2020 13:18 WIB

Guru Besar IPB: Surplus-Defisit Pengadaan Pangan Antarwilayah Itu Hal Wajar

Surplus-defisit dalam sistem penyediaan pangan antarwilayah itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun

Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Prof Muhammad Firdaus. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Muhammad Firdaus meminta publik tidak salah dalam menterjemahkan pernyataan Presiden Joko Widodo tentang neraca surplus-minus pangan.

Demikian kata Firdaus pada acara "Pangan Talk: Ketahanan Pangan dan Peran Teknologi Pertanian di Masa Pandemi" yang dihelat Kelompok Studi Pangan Institute melalui Video Conference, di Jakarta, Minggu (3/5).

Dalam diskusi yang diikuti para pakar, praktisi dan pengamat pertanian tersebut, Firdaus menegaskan, kondisi ketersediaan pangan pokok nasional secara kumulatif mencukupi, meskipun belum merata sebarannya.

"Surplus-defisit dalam sistem penyediaan pangan antarwilayah itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun," ujar Firdaus. "Apalagi kita negara kepulauan terbesar di dunia, tidak mungkin produksi merata sama di seluruh wilayah."

Firdaus mengatakan, agar sistem distribusi pangan perlu ditata dengan baik mengurangi disparitas harga antarwilayah.

"Kita sangat mengapresiasi upaya pemerintah dalam menata sistem distribusi pangan kita. Contohnya, di Kementerian Pertanian sudah merintis kerjasama dengan beberapa startup untuk kerjasama distribusi pangan," ujar Firdaus.

"Data stok terkini dan prediksi ketersediaan pangan sekian bulan ke depan juga sudah dibuat sangat lengkap. Ini bagus dan perlu diketahui publik, supaya masyarakat lebih tenang," tambahnya.

Data pergerakan harga pangan harian menurut Firdaus, juga penting untuk terus dipantau dan diinformasikan ke publik sebagai panduan masyarakat luas termasuk petani.

"Ini menjadi salah satu cara menekan disparitas harga petani dengan konsumen. Pernah saya cek langsung petani di pelosok Boyolali, ternyata mereka update soal harga di pasar induk dan pasar-pasar besar. Ini luar biasa," kata profesor muda IPB tersebut.

Terkait kondisi pandemi virus corona (COVID-19) saat ini, adanya jaminan pangan pokok dinilainya sangat penting agar masyarakat mau melaksanakan anjuran tetap di rumah (stay at home).

"Saya setuju bantuan untuk masyarakat jangan berupa cash money. Bisa dalam bentuk voucher atau paket bundling pangan. Mekanisme delivery nya bisa diatur supaya masyarakat nyaman di rumah masing-masing," ujarnya.

 

Untuk menjaga ketahananan pangan nasional, Firdaus menekankan pentingnya meningkatkan akurasi data stok bahan pangan dari produksi dalam negeri maupun yang berasal dari impor, penataan akses distribusi logistik, jaminan keamanan pangan, mempertahankan daya beli masyarakat hingga menjaga stabilitas harga.

Selain itu, Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga status gizi dan kesehatan masyarakat selama pandemi ini. Caranya bisa dengan meningkatkan asupan konsumsi produk hortikultura dan aneka kacang.

"Banyak hal yang bisa dilakukan. Untuk itu sinergi dan kolaborasi semua pihak harus terus ditingkatkan, contohnya kemitraan antara pelaku usaha besar, UMKM, hingga petani," pungkasnya.

TAGS : Stok Pangan Joko Widodo Muhammad Firdaus




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :