https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

HNW: Orang Beragama itu Mencerahkan

Herwin Wijaya | Sabtu, 13/04/2019 11:56 WIB



Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menuturkan ketika menggunakan terminologi agama maka orientasinya adalah mencerahkan. MPR

Jakarta, Jurnas.com - Saat memberi ceramah dalam acara pengajian bulanan yang diselenggarakan di Aula KH. Ahmad Dahlan, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, 12 April 2019, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menuturkan ketika menggunakan terminologi agama maka orientasinya adalah mencerahkan. Pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu selanjutnya menerangkan kata agama dari bahasa Sansekerta. “Menurut bahasa Sansekerta A berarti tidak, Gama berarti kacau, sehingga agama berarti tidak kacau”, ungkapnya.

Dari sinilah ia menyesalkan bila ada orang beragama namun sering mengkafir-kafirkan atau membidah-bidahkan orang atau kelompok yang lain. Mereka menyebut demokrasi bidah, sekolah bidah. Sikap yang demikian menurut pria yang juga menjadi Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Gontor itu membuat beragama menjadi menakutkan. “Beragama itu membuat masyarakat menjadi madani bukan ’medeni’(menakutkan),” tuturnya.

Beragama yang mencerahkan menurut HNW sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dipaparkan, ulama pendahulu adalah sosok beragama yang mencerahkan untuk kehidupan bangsa dan negara. Disampaikan kepada jamaah pengajian yang hadir malam itu, bagaimana sosok Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, KH. Hasyim Ashari, Mohammad Natsir, dan ulama lainnya. Dengan keberagamaannya mereka mencerahkan dan menyelamatkan Indonesia.

Baca juga :
Lawan Persebaya, Pelatih Persik Tak Ubah Gaya Bermain Timnya

Diceritakan bagaimana anggota Panitia 9 yang berasal dari Muhammadiyah saat merumuskan Panacasila. Sosok seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Kahar Muzakir rela tujuh kata dalam Pancasila 22 Juni 1945 dihilangkan. Langkah ketiga tokoh Muhammadiyah itu membuat Pancasila tetap terjaga dan bangsa Indonesia tetap bersatu. “Mereka mendahulukan kepentingan bangsa”, tuturnya.

Pun demikian ketika Belanda ingin menjajah kembali Indonesia lewat Surabaya. Ulama Jawa Timur di bawah pimpinan KH. Hasyim Ashari mengeluarkan ‘Fatwa Jihad’. Dari fatwa tersebut menyemangati ummat Islam, santri, dan masyarakat untuk berjuang mempertahankan Indonesia dari upaya penjajahan kembali Belanda. “Dari fatwa itu melahirkan semangat kepahlawanan 10 November”, ucapnya.

Baca juga :
Warga Gaza Kembali Gagal Haji Imbas Pembatasan oleh Israel

Dari sinilah HNW mengajak kepada semua untuk tidak melupakan jasa para ulama. “Jika ada ‘Jas Merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah; maka kita perlu juga ‘Jas Hijau’, jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama”, tuturnya. Peristiwa seperti itulah yang menurutnya perlu disegarkan kembali. “Peran ulama mencerahkan sehingga menyelamatkan Indonesia”, paparnya. 

Baca juga :
Kampus Binus di Jakarta Barat Kebakaran
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kinerja MPR

Terpopuler

Kamis, 23/07/2026 04:04 WIB
Gaya Hidup

20 Contoh Ucapan Hari Anak Nasional yang Penuh Makna

Rabu, 22/07/2026 01:01 WIB
Humanika

22 Juli 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777