Ilustrasi lafaz Allah (Foto: Unsplash/Masjid Pogung Raya)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap kali membaca Al-Qur`an atau mengawali aktivitas harian dengan melafalkan kalimat Basmalah, umat Islam senantiasa menyebut dua nama Allah yang sangat mulia, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Kedua asmaulhusna ini berakar dari kata bahasa Arab yang sama, yakni Ar-Rahmah, yang memiliki arti dasar kasih sayang.
Karena berasal dari kata dasar yang serupa, tidak sedikit orang menganggap bahwa Ar-Rahman dan Ar-Rahim memiliki makna yang sepenuhnya identik.
Dihimpun dari berbagai sumber, sifat Ar-Rahman menggambarkan kasih sayang Allah SWT yang maha luas, tak terbatas, dan melingkupi seluruh ciptaan-Nya tanpa terkecuali selama hidup di alam dunia.
Bentuk kasih sayang ini bersifat universal atau umum. Artinya, setiap makhluk yang berada di bumi—baik orang yang beriman, orang yang ingkar, hingga hewan dan tumbuh-tumbuhan—seluruhnya menikmati limpahan sifat Ar-Rahman.
Udara untuk bernapas, air, makanan, hingga fasilitas alam lainnya diberikan oleh Allah kepada siapa saja di dunia ini sebagai bentuk keutamaan sifat Ar-Rahman.
Sementara itu, sifat Ar-Rahim menggambarkan kasih sayang Allah SWT yang bersifat khusus dan penuh keistimewaan. Berbeda dengan Ar-Rahman yang dirasakan oleh semua makhluk di bumi, sifat Ar-Rahim hanya dikhususkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Bentuk kasih sayang Ar-Rahim ini tidak hanya berwujud pemenuhan kebutuhan fisik semata, melainkan berupa hidayah, ketenangan jiwa, kemudahan dalam beribadah, serta ampunan atas dosa-dosa selama di dunia.
Puncak dari manifestasi sifat Ar-Rahim ini kelak akan dirasakan secara sempurna oleh orang-orang mukmin di akhirat berupa kenikmatan surga.
Penggabungan kedua nama agung ini secara berurutan dalam kalimat Basmalah menyimpan hikmah yang sangat mendalam bagi kehidupan seorang Muslim.
Penempatan Ar-Rahman yang didahulukan sebelum Ar-Rahim menandakan bahwa rahmat Allah di dunia sangat luas mencakup segala hal, baru kemudian diikuti oleh rahmat Ar-Rahim yang berfokus pada keselamatan spiritual dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Urutan ini mengajarkan manusia untuk tidak hanya bersyukur atas nikmat fisik yang diterima di bumi, tetapi juga terus memelihara keimanan agar pantas menerima kasih sayang-Nya yang abadi.