Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-28 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Kamis (23/7) (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)
Jakarta, Jurnas.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah "Londo Ireng" saat berpidato dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Kamis (23/7) menyita perhatian publik.
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan bahwa "Londo Ireng masih ada sampai sekarang" ketika menyinggung pihak-pihak yang dinilainya lebih berpihak kepada kepentingan asing daripada kepentingan bangsa sendiri.
Ucapan tersebut membuat banyak masyarakat penasaran dengan makna sebenarnya dari istilah Londo Ireng.
Padahal, istilah ini memiliki akar sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial Belanda di Indonesia.
Secara historis, Londo Ireng merupakan sebutan masyarakat Jawa terhadap tentara kulit hitam asal Afrika yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk bertugas di Hindia Belanda pada abad ke-19.
Mereka berasal dari wilayah Pantai Emas (Gold Coast), yang kini menjadi bagian dari negara Ghana.
Belanda merekrut mereka sebagai prajurit Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Perekrutan ini dilakukan karena Belanda mengalami kekurangan personel militer, terutama setelah banyak tentara Eropa meninggal akibat penyakit tropis maupun peperangan di Nusantara.
Belanda menilai prajurit asal Afrika memiliki daya tahan fisik yang lebih baik terhadap iklim tropis dibandingkan tentara Eropa.
Selain itu, mereka dianggap memiliki kemampuan tempur yang baik sehingga ditempatkan dalam berbagai operasi militer, termasuk di Sumatra, Jawa, hingga Aceh.
Sebagian besar direkrut melalui perjanjian dengan penguasa setempat, sementara sebagian lainnya bergabung karena alasan ekonomi.
Dalam bahasa Jawa, kata "Londo" berarti Belanda atau orang Eropa, sedangkan "Ireng" berarti hitam.
Karena para prajurit tersebut mengenakan seragam KNIL milik Belanda tetapi berkulit hitam, masyarakat kemudian menjuluki mereka sebagai Londo Ireng atau "Belanda Hitam".
Meskipun demikian, secara etnis mereka bukanlah orang Belanda, melainkan warga Afrika yang bertugas di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Setelah masa dinas berakhir, tidak semua tentara Afrika kembali ke tanah kelahirannya.
Sebagian memilih menetap di Hindia Belanda, menikah dengan penduduk lokal, dan membangun kehidupan baru. Jejak keturunan mereka masih dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, meski jumlahnya kini tidak banyak.
Keberadaan mereka menjadi salah satu bagian unik dari sejarah kolonial yang jarang diketahui masyarakat luas.
Seiring berjalannya waktu, istilah Londo Ireng tidak lagi semata merujuk kepada tentara Afrika di era kolonial.
Dalam penggunaan modern, istilah tersebut kerap dipakai sebagai ungkapan kiasan untuk menyebut seseorang yang dinilai berpihak kepada kepentingan asing atau bertindak layaknya penjajah, meskipun berasal dari bangsa sendiri.
Pergeseran makna inilah yang membuat istilah tersebut kembali menjadi sorotan setelah disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato HUT PKB.