Ilustrasi - Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia setiap 25 Juli, ini sejarah hingga maknanya (Foto: Pixabay)
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 25 Juli kembali diperingati sebagai Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia (World Drowning Prevention Day).
Peringatan yang digagas oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global terhadap salah satu penyebab utama kematian yang sering terabaikan di seluruh dunia.
Berdasarkan laporan resmi WHO dan berbagai rilis media internasional, tenggelam merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat cedera tidak disengaja.
Diperkirakan lebih dari 236.000 hingga 300.000 jiwa melayang setiap tahunnya karena tenggelam, dengan angka tertinggi terjadi pada anak-anak usia 1 hingga 14 tahun.
Ironisnya, lebih dari 90 persen kematian akibat tenggelam terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya di kawasan pedesaan dengan akses terbatas ke fasilitas keselamatan perairan.
Sejarah penetapan Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia bermula dari inisiatif diplomatik yang diusung oleh pemerintah Bangladesh dan Irlandia.
Kedua negara tersebut memelopori draf resolusi di PBB untuk menarik perhatian dunia terhadap tragedi tenggelam yang kerap dianggap sebagai musibah tak terelakkan, padahal sangat memungkinkan untuk dicegah.
Upaya tersebut membuahkan hasil manis ketika Majelis Umum PBB secara resmi mengesahkan Resolusi A/RES/75/273 pada bulan April 2021.
Melalui resolusi bersejarah tersebut, PBB menetapkan tanggal 25 Juli sebagai Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia yang diperingati setiap tahunnya, sekaligus menunjuk WHO sebagai lembaga utama yang mengoordinasikan aksi pencegahan ini di tingkat global.
Melalui peringatan ini, WHO merumuskan enam intervensi praktis yang terbukti ampuh menekan risiko tenggelam.
Langkah-langkah tersebut meliputi pemasangan penghalang atau pagar pembatas di dekat area air, penyediaan tempat penitipan anak yang aman jauh dari sumber air, hingga pengajaran keterampilan dasar berenang dan keselamatan air bagi anak-anak sekolah.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk membekali diri dengan pelatihan pertolongan pertama dan resusitasi jantung paru (CPR), serta pengetatan regulasi keselamatan pada moda transportasi air dan perahu penangkap ikan.
Peringatan 25 Juli ini diharapkan tidak hanya menjadi sekadar seremonial, tetapi mampu mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk memasukkan isu keselamatan perairan ke dalam kebijakan nasional, demi menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya.