https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kisah Mudik Rasulullah SAW pada 10 Ramadan

Agus Mughni | Sabtu, 22/03/2025 19:05 WIB



Menjelang lebaran Idulfitri, umat Muslim di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan tradisi mudik atau perjalanan pulang ke kampung halaman Ilutrasi mudik pada 10 Ramdan (Foto: Pexels/Ed Duvico)

Jakarta, Jurnas.com - Menjelang lebaran Idulfitri, umat Muslim di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan tradisi mudik atau perjalanan pulang ke kampung halaman. Biasanya, tradisi tahunan ini dilakukan oleh mereka yang tinggal di kota besar menuju kota atau desa kelahiran. Tujuannya pun beragam, mulai dari berkumpul bersama keluarga, menjalin silaturrahim, hingga mengenang masa kecil saat momen lebaran.

Namun, tahukah Anda bahwa jauh sebelum tradisi mudik ini ada di Indonesia, Rasulullah SAW dan para sahabatnya juga pernah melakukan perjalanan serupa, mudik? Berikut adalah kisahnya yang dikutip dari laman Nahdlatul Ulama.

Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Rasulullah SAW bersama para sahabat melakukan perjalanan pulang kampung, Makkah setelah 8 tahun hijrah ke Madinah.

Baca juga :
Mengenal Sosok Abdullah bin Mas`ud, Sahabat Nabi SAW Ahli Al-Qur`an

Mudik Rasulullah tersebut diyakini sebagai peristiwa besar dalam sejarah Islam, yang dikenal dengan nama Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Meskipun konteks dan tujuannya berbeda jauh dengan yang kita kenal saat ini, ada banyak nilai luhur yang bisa diambil dari peristiwa tersebut.

Fathu Makkah merupakan penaklukan kota Makkah yang sebelumnya menjadi tempat kelahiran Rasulullah SAW dan juga tempat yang menentang dakwah Islam. Peristiwa ini mengubah banyak hal, dan yang paling penting adalah bahwa Islam menunjukkan wajahnya yang penuh kasih sayang.

Baca juga :
Minum Es saat Buka Puasa, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Rasulullah SAW tidak membalas dendam terhadap musuh-musuh yang dulu menentang ajarannya, malah beliau memaafkan mereka dengan penuh ketulusan hati. Bahkan, beliau mengizinkan seluruh penduduk Makkah untuk masuk atau memeluk Islam dengan penuh kedamaian.

Dalam konteks tersebut, mudik menjadi momen yang penuh kedamaian, bukan untuk menyebarkan hal-hal negatif. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk memanfaatkan setiap perjalanan untuk menyebarkan kebaikan dan mempererat hubungan persaudaraan.

Baca juga :
Artefak Nabi Muhammad Dipamerkan Gratis di Bogor, Ada Rambut hingga Sandal

Selain itu, peristiwa ini juga membawa momen pembersihan Ka`bah. Rasulullah SAW bersama para sahabat menghancurkan 360 berhala yang kala itu disembah oleh warga Makkah, termasuk tiga berhala terbesar yang bernama Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.

Dengan mengenang kisah mudik Rasulullah SAW, kita bisa merenung dan memaknai kembali tujuan mudik saat ini. Mudik bukan hanya tentang pulang kampung, tapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, hingga sesama.(*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kisah Mudik Rasulullah SAW Bulan Ramadan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777