Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group), salah satu perusahaan otomotif besar Tiongkok, di Beijing, Selasa (13/10). (Foto: Kementrans)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai pengalaman industri otomotif Tiongkok dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Hal tersebut disampaikan Iftitah saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group), salah satu perusahaan otomotif besar Tiongkok, di Beijing, Selasa (13/10/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempelajari pengalaman pembangunan industri yang dapat diterapkan dalam transformasi kawasan transmigrasi.
Dalam kunjungan itu, salah satu hal yang menjadi perhatian Mentrans Iftitah adalah proses panjang di balik kemajuan industri, mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM), penguasaan teknologi, investasi, hingga riset dan kerja sama internasional.
“Saya tertarik bukan pada produknya, melainkan pada prosesnya,” ujar Mentrans Iftitah dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu (14/10).
Menurutnya, hal terpenting yang dapat dipelajari Indonesia bukan sekadar bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan kendaraan berkualitas. Melainkan bagaimana kemampuan industri tersebut dibangun, dikembangkan, dan diperkuat hingga mampu bersaing.
Mentrans Iftitah melihat pengalaman BAIC sebagai pembelajaran yang relevan bagi upaya Indonesia membangun industri dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, termasuk melalui transformasi kawasan transmigrasi.
“Pertama, mereka berorientasi pada manusia. Itulah sebabnya mereka berinvestasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Itu lesson learned pertama yang saya tangkap,” katanya.
Menurut Iftitah, pembangunan industri harus dimulai dari pembangunan manusianya. Mesin, pabrik, dan modal merupakan bagian penting, tetapi kemampuan tenaga kerja, insinyur, peneliti, serta pengelola industri menjadi fondasi yang menentukan keberlanjutan dan daya saing.
Untuk itu, pengembangan kawasan industri di Indonesia perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, pelatihan, riset, dan penyiapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Pelajaran lain yang menarik perhatian Iftitah adalah keterbukaan BAIC terhadap kerja sama internasional. Dalam perjalanan pengembangannya, BAIC membangun kemitraan dengan sejumlah perusahaan otomotif global, termasuk Hyundai dari Korea Selatan dan Mercedes-Benz dari Jerman.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan produksi, teknologi, manajemen, dan jaringan industri perusahaan.
Menurut Iftitah, pengalaman itu menunjukkan pembangunan industri nasional tidak harus dilakukan dengan membangun seluruh kemampuan secara mandiri sejak awal. Kerja sama dengan mitra yang telah memiliki teknologi dan pengalaman dapat menjadi sarana untuk mempercepat pembelajaran, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memperkuat kemampuan industri dalam negeri.
“Tidak ada sesuatu yang bisa dibuat dalam semalam. Mereka membutuhkan puluhan tahun, tetapi pada titik tertentu akan terjadi akselerasi,” ujarnya.
Iftitah menilai proses tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Keberhasilan industrialisasi memerlukan konsistensi kebijakan, investasi jangka panjang, keberanian membangun kemitraan, serta kesungguhan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang terlihat hari ini merupakan hasil dari kemampuan yang dibangun secara bertahap selama bertahun-tahun.
Iftitah juga menaruh perhatian pada ekosistem industri yang berkembang di sekitar perusahaan otomotif seperti BAIC. Sebuah industri besar tidak bekerja sendirian. Kegiatan produksinya membutuhkan jaringan pemasok komponen, perusahaan pendukung, lembaga penelitian, tenaga ahli, sistem logistik, serta pasar yang terus berkembang.
Ketika ekosistem tersebut terbentuk, peluang ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan utama, tetapi juga dapat berkembang ke berbagai usaha pendukung.
“Kalau kita berinvestasi dalam riset dan ekosistemnya terbentuk, pihak lain tidak perlu mulai dari nol,” kata Iftitah.
Menurutnya, pelajaran tersebut sangat relevan dengan transformasi transmigrasi yang kini diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.
Kawasan transmigrasi tidak cukup hanya memiliki lahan dan sumber daya alam. Kawasan juga membutuhkan industri, teknologi, infrastruktur, tenaga kerja terampil, serta jaringan usaha yang mampu mengolah potensi daerah menjadi produk bernilai tambah.
Pengembangan industri diharapkan dapat membuka lapangan kerja formal, memperkuat usaha lokal, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, investasi tidak hanya menghasilkan kegiatan produksi, tetapi juga membangun kemampuan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Dalam kunjungan tersebut, Iftitah juga menyoroti besarnya pasar domestik Indonesia sebagai salah satu modal penting bagi pengembangan industri nasional. Menurutnya, peluang industrialisasi tidak hanya berasal dari kekayaan komoditas dan sumber daya alam, tetapi juga dari kebutuhan pasar dalam negeri yang terus berkembang.
Sektor otomotif, termasuk kendaraan listrik, menjadi salah satu contoh industri yang dapat dikembangkan melalui penguasaan teknologi, kerja sama internasional, dan pembangunan rantai pasok.
“Kebutuhan kendaraan juga tinggi, dan mungkin ke depan kendaraan listrik akan menjadi yang utama. Mengapa Indonesia tidak membangun industri serupa dengan terlebih dahulu mempelajari prosesnya di Tiongkok?” ujarnya.
Iftitah menilai Indonesia perlu mengambil pelajaran dari pengalaman negara-negara yang berhasil membangun kemampuan industrinya, tanpa harus meniru seluruh model pembangunan mereka.
Setiap wilayah Indonesia memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, pengembangan industri harus disesuaikan dengan sumber daya lokal, kebutuhan pasar, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan masyarakat.
Dalam konteks transmigrasi, pembelajaran dari BAIC dapat diterapkan pada pengembangan ekosistem industri berbasis potensi kawasan, mulai dari pengolahan hasil pertanian dan perkebunan hingga berbagai kegiatan manufaktur dan usaha pendukung.
Bagi Iftitah, pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada hadirnya investasi atau berdirinya pabrik. Keberhasilannya harus terlihat dari tumbuhnya kemampuan industri daerah, meningkatnya keterampilan masyarakat, berkembangnya usaha lokal, serta terbukanya lebih banyak pekerjaan dan sumber pendapatan.
Kunjungan ke BAIC menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kementerian Transmigrasi ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026 untuk mempelajari pengalaman pembangunan industri, teknologi, dan pengembangan ekonomi wilayah.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi diterima sejumlah jajaran BAIC Group, antara lain Peng Jin, Director of Strategic Customer Division; Jiang Dong, Deputy Director of International Business Office; Sun Zhiyong, Vice President BAIC International; serta Li Jiayi, Country Manager Indonesia.
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB
Rabu, 14/10/2026 17:05 WIB