Pengamat Timur Tengah Prof. DR. Kholid Al Walid, MA di acara Seminar Nasional bertajuk Iran dalam Perspektif Peradaban Islam Dunia” yang digelar di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, pada Rabu (7/10) (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Pengamat Timur Tengah Prof. DR. Kholid Al Walid, MA menyebut kekuatan Iran tidak terlepas dari tradisi keilmuan yang terus dipelihara dari masa ke masa.
Menurutnya, perpaduan antara pendidikan agama, filsafat, sains dan teknologi menjadi salah satu faktor yang membuat Iran mampu berkembang hingga saat ini.
Hal itu disampaikan Kholid dalam Seminar Nasional bertajuk “Iran dalam Perspektif Peradaban Islam Dunia” yang digelar di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, pada Rabu (7/10).
Dalam paparannya, Kholid menjelaskan bahwa Persia, yang saat ini sebagian besar wilayahnya direpresentasikan oleh Iran, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
“Yang menarik bagi orang Iran itu kecintaan pada ilmu yang luar biasa,” kata Kholid.
Ia mengatakan tradisi keilmuan Persia telah berkembang jauh sebelum bertemu dengan peradaban Islam.
Warisan keilmuan tersebut kemudian bertemu dengan semangat Islam yang menurutnya memberikan dorongan kuat terhadap penggunaan akal dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Ketika terjadi pertemuan di antara semangat Islam yang demikian dengan kemudian peradaban Persia yang sudah sebelumnya memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan, menyebabkan kemudian keduanya ini menjadi akumulasi yang demikian luar biasa,” ujarnya.
Kholid menyebut sejumlah tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam yang berasal dari wilayah Persia.
Di antaranya Imam Al-Ghazali, Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Zamakhsyari, Al-Jurjani hingga Mullah Sadra.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak berhenti pada masa klasik. Iran hingga kini tetap mempertahankan pola pendidikan yang mempertemukan keilmuan agama dengan sains modern.
“Tradisi ini terus dipelihara, tradisi ini tidak terputus kemudian antara tradisi klasik Islam yang berkembang di Iran itu hingga saat ini terus dipelihara di Iran,” katanya.
Ia menjelaskan terdapat dua pola pendidikan yang dijalani para intelektual di Iran. Selain pendidikan formal seperti S1, S2 dan S3, terdapat pula pendidikan keagamaan yang disebutnya sebagai pendidikan hausa ilmiah.
Dalam pendidikan tersebut, para pelajar mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, usul fikih, bahasa Arab, filsafat, logika atau mantik hingga bidang lainnya.
“Tidak ada pemisahan antara keilmuan agama dengan sains modern, mereka menjadikan itu sebagai sesuatu yang satu,” ujar Kholid.
Kholid kemudian memaparkan pengalamannya terkait sistem pendidikan di Iran. Ia menyebut pendidikan hingga jenjang S3 diberikan secara gratis sekaligus mendapat dukungan biaya dari pemerintah.
“Satu aja kuncinya sebenarnya gratis Pak, mau sampai S3 itu bukan hanya gratis tapi diberikan biaya,” kata Kholid saat menjawab pertanyaan peserta seminar.
Menurut dia, dukungan terhadap mahasiswa juga diberikan dengan memperhatikan kondisi mereka. Ia menyebut mahasiswa yang belum menikah mendapatkan dukungan bulanan, sementara mahasiswa yang telah menikah memperoleh dukungan yang lebih besar.
Selain mahasiswa, perhatian juga diberikan kepada para dosen.
“Dosen-dosen Pak di Iran itu sangat terhormat, sangat terhormat, gajinya sangat besar,” ujarnya.
Kholid menyebut dosen yang diterima di perguruan tinggi juga memperoleh fasilitas tempat tinggal berupa apartemen. Mereka juga diwajibkan mengikuti konferensi internasional setiap tahun.
“Setiap tahun harus mengikuti konferensi internasional di luar, ini luar biasa Pak,” katanya.
Menurut Kholid, dukungan tersebut membuat dosen dapat lebih fokus menjalankan tugasnya di perguruan tinggi.
“Jadi dosen itu terhormat, biayanya digaji besar dan mereka dituntut fokus untuk di perguruan tinggi,” ujarnya.
Kholid juga menilai kecintaan masyarakat Iran terhadap ilmu pengetahuan tidak hanya terlihat dari sistem pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi mahasiswa di Iran. Suatu malam, seorang sopir taksi mengajaknya mampir ke rumah setelah mengetahui Kholid merupakan mahasiswa asal Indonesia.
Di rumah tersebut, Kholid justru mendapatkan sejumlah buku dari sopir taksi tersebut.
“Dia mengatakan bahwa Pak, mungkin saya tidak punya waktu untuk mempelajari buku ini. Mudah-mudahan kalau Anda pelajari, itu adalah amal jariah bagi saya,” tutur Kholid.
Pengalaman itu, menurutnya, menjadi salah satu gambaran mengenai kecintaan terhadap ilmu yang ia temukan di Iran.
Kholid juga menyebut kemampuan bahasa dan rasionalitas sebagai dua hal yang turut membentuk karakter masyarakat Iran.
“Yang pertama adalah kemampuan bahasa mereka yang sangat luar biasa, yang kedua adalah kemampuan rasionalitas mereka yang luar biasa karena terbiasa belajar filsafat,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pembelajaran pemikiran kritis telah diperkenalkan sejak jenjang sekolah menengah di Iran.
Bahkan, Kholid menceritakan pengalaman ketika seorang dosennya menghentikan perkuliahan karena mahasiswa tidak memberikan kritik terhadap materi yang disampaikan.
“Saya mengajar Anda kalau saya tidak mendapatkan kritik dari Anda, saya tidak berkembang ilmu saya. Untuk apa saya mengajar Anda karena saya mengajar Anda untuk mendapatkan hal-hal yang baru juga adalah pemikiran saya,” kata Kholid.
Bagi Kholid, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana proses pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menerima pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya pemikiran baru.
Ia kemudian mengaitkan tradisi keilmuan tersebut dengan perkembangan Iran saat ini, termasuk dalam bidang sains dan teknologi.
“Kalau sekarang itu kita tidak heran melihat ada seorang ulama, tapi kemudian dia yang dikerjain apa? Rudal itu bukan satu hal yang kemudian bagi asing di sana, karena ada kesatuan kemudian antara bangunan keilmuan keagamaan dengan bangunan sains dan teknologi,” ujarnya.
Menurut Kholid, keberlanjutan tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan Iran dalam mempertahankan perkembangan keilmuan hingga masa kini.
Kamis, 08/10/2026 16:38 WIB
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB
Kamis, 08/10/2026 14:51 WIB