Logo pusat data Yandex di Rusia (Foto: Reuters)
Moskow, Jurnas.com - Serangan pesawat nirawak (drone) menghantam sebuah pusat data utama milik raksasa teknologi dan kecerdasan artifisial Rusia, Yandex, yang berlokasi di wilayah Ryazan pada Kamis (8/10). Pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa serangan tersebut memicu kebakaran dan memaksa mereka menghentikan operasional pusat data tersebut secara penuh.
Yandex menyampaikan bahwa saat ini tengah menangani dampak kerusakan yang ditimbulkan serta berupaya memulihkan layanan-layanan yang terganggu. Kendati fasilitas di Ryazan harus dinonaktifkan sepenuhnya, Yandex memastikan bahwa layanan konsumen intinya tidak terpengaruh oleh insiden tersebut.
Dikutip dari Reuters, Yandex merupakan pengembang dan pengelola YandexGPT, salah satu model generative AI terkemuka di Rusia. Peristiwa ini menyusul gelombang serangan yang dilancarkan Rusia terhadap berbagai pusat data di Ukraina dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan terhadap fasilitas Yandex ini sekaligus menjadi serangan drone besar pertama yang terkonfirmasi menargetkan pusat data di wilayah Rusia, lantaran sebelumnya belum pernah ada konfirmasi serangan besar serupa dari Ukraina ke pusat data Rusia.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengumumkan bahwa Rusia telah menyetujui usulan Washington untuk mengadakan pertemuan trilateral bersama Amerika Serikat dan Ukraina, guna menyelesaikan konflik. Persetujuan tersebut juga mencakup penetapan jangka waktu pelaksanaan perundingan trilateral tersebut.
Dalam konferensi pers di Moskow pada Rabu (7/10), Lavrov menegaskan bahwa Presiden Vladimir Putin telah menyatakan persetujuan penuh terhadap usulan tersebut serta menyampaikan kesiapan Moskow untuk beralih ke kerja nyata yang serius.
Kendati demikian, Lavrov menuduh Ukraina selalu berusaha mengacaukan kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya, serta melancarkan serangan terhadap fasilitas sipil dan tempat pemungutan suara di Rusia.
Lavrov menegaskan bahwa inisiatif pertemuan ini bukan berasal dari Rusia, melainkan diajukan oleh AS. Dia menjelaskan bahwa Moskow ingin merealisasikan pemahaman bersama yang dicapai dalam pertemuan puncak antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di Anchorage, Alaska, pada Agustus 2025.
Kamis, 08/10/2026 16:38 WIB
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB
Kamis, 08/10/2026 14:51 WIB