https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Atmosfer Bumi Kehilangan 10 Persen Debu dalam 20 Tahun, Begini Dampaknya

Agus Mughni | Selasa, 22/09/2026 22:05 WIB



Atmosfer Bumi ternyata semakin sedikit membawa debu Ilustrasi perubahan iklim ekstrem di Bumi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Atmosfer Bumi ternyata semakin sedikit membawa debu. Studi terbaru menemukan jumlah debu di atmosfer global turun sekitar 10 persen dalam periode 2003 hingga 2023, sebuah perubahan yang justru berpotensi memberikan sedikit tambahan terhadap pemanasan global.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena debu atmosfer memiliki efek pendinginan terhadap iklim. Partikel-partikel kecil yang melayang di udara dapat memantulkan sebagian sinar Matahari kembali ke angkasa sebelum mencapai permukaan Bumi.

Dengan berkurangnya debu di atmosfer, efek pendinginan tersebut ikut melemah. Peneliti menilai penurunan debu kemungkinan berkontribusi secara moderat terhadap pemanasan yang terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.

Baca juga :
PBB Prediksi Pemanasan Global Tembus 1,5 Derajat Celsius

"Karena debu atmosfer secara keseluruhan memiliki sedikit efek pendinginan terhadap iklim, penurunan debu yang kita lihat sekarang kemungkinan berkontribusi secara moderat terhadap pemanasan yang terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia," ujar Jasper Kok, peneliti UCLA sekaligus salah satu penulis studi.

Penelitian yang dipimpin Ashok Gupta menggabungkan pengamatan satelit, pengukuran dari permukaan Bumi, dan model atmosfer untuk melacak perubahan jumlah debu selama dua dekade.

Baca juga :
El Nino Datang, WMO Minta Dunia Bersiap Hadapi Dampaknya

Hasil dari berbagai sumber data tersebut menunjukkan pola yang sama, yakni penurunan debu atmosfer secara global sekitar 10 persen sejak 2003 hingga 2023.

"Ini adalah bukti terkuat hingga saat ini bahwa atmosfer Bumi menjadi kurang berdebu pada awal abad ke-21," kata Gupta, yang melakukan penelitian tersebut di UCLA dan kini menjadi ilmuwan staf di Vanderbilt University.

Baca juga :
Perubahan Iklim Bikin Penyakit Air Berubah, Risiko Kolera-Salmonel Naik

Sebagian besar debu atmosfer berasal dari belahan Bumi utara. Gurun Sahara di Afrika Utara dan Gurun Gobi di Asia menjadi sumber utama yang setiap tahun melepaskan debu dalam jumlah besar ke atmosfer. Partikel tersebut kemudian terbawa arus angin melintasi lautan dan benua.

Namun, penyebab pasti penurunan debu dalam dua dekade terakhir masih belum sepenuhnya diketahui.

Penurunan debu pada awal abad ke-21 juga menunjukkan perubahan dari kecenderungan yang terjadi pada sebagian besar abad ke-20.

Kok mencatat, jumlah debu atmosfer sebelumnya meningkat dan mencapai puncaknya pada dekade 1980-an. Para ilmuwan masih terus menelusuri faktor yang mendorong peningkatan tersebut.

Artinya, perubahan jumlah debu di atmosfer bukan sesuatu yang berjalan dalam satu arah secara permanen. Dinamika debu dipengaruhi berbagai faktor lingkungan yang masih terus diteliti.

Meski ukurannya sangat kecil, debu atmosfer memiliki sejumlah peran dalam sistem Bumi. Partikel tersebut membantu membawa dan mengendapkan nutrisi serta mineral ke laut dan daratan.

Pada saat yang sama, debu juga berkontribusi terhadap polusi udara dan dapat mengurangi kemampuan salju serta es memantulkan cahaya Matahari.

Ketika debu menempel pada permukaan salju atau es, permukaan tersebut menjadi lebih gelap. Kondisi ini membuat lebih banyak sinar Matahari diserap sehingga dapat mempercepat pencairan gletser dan wilayah es.

"Debu yang beredar melalui atmosfer memainkan peran penting dalam mengendapkan nutrisi dan mineral ke laut serta daratan. Debu juga berkontribusi terhadap polusi udara dan mengurangi reflektivitas salju dan es," kata Kok.

Meskipun jumlah debu atmosfer saat ini telah menurun dibandingkan 2003, tingkat debu masih lebih tinggi daripada kondisi sebelum industrialisasi.

Selain gurun seperti Sahara dan Gobi, sebagian debu saat ini juga berasal dari dasar danau yang mengering. Perubahan tersebut berkaitan dengan pengalihan air untuk pertanian dan kebutuhan lainnya.

Sejumlah wilayah yang disebut dalam penelitian antara lain Salton Sea dan Owens Valley di California, Great Salt Lake di Utah, serta Laut Aral.

Dasar danau yang mengering menunjukkan bagaimana keputusan manusia dalam mengelola sumber daya air dapat memengaruhi sumber debu dan pada akhirnya turut membentuk kondisi atmosfer.

Pertanyaan utama yang masih dicari jawabannya adalah apa yang sebenarnya menyebabkan jumlah debu atmosfer global menurun dalam dua dekade terakhir.

Gupta masih melanjutkan penelitian tersebut di Vanderbilt University bersama mantan koleganya di UCLA. Para peneliti kini berupaya mengetahui seberapa besar perubahan angin permukaan dan faktor lingkungan lainnya berperan dalam penurunan debu.

"Kami sedang berupaya menentukan seberapa besar penurunan debu global dapat dikaitkan dengan perubahan angin permukaan dan faktor lingkungan lainnya, serta apa arti perubahan tersebut bagi debu atmosfer di masa depan ketika iklim terus menghangat," ujar Gupta.

Temuan mengenai penurunan sekitar 10 persen debu atmosfer dalam dua dekade menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan peningkatan suhu. Perubahan pada partikel-partikel alami yang beredar di atmosfer juga dapat memengaruhi keseimbangan iklim, ekosistem, kualitas udara, serta proses pencairan salju dan es.

Studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances. (*)

SUmber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Atmosfer Bumi Debu Bumi Pemanasan Global

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777