El Nino 2026-2027 diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - El Nino diperkirakan kembali terbentuk pada 2026, dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan peluang mencapai 80 persen hingga akhir Agustus dan mendekati atau bahkan lebih dari 90 persen untuk sisa tahun ini.
Peringatan tersebut disampaikan dalam pembaruan terbaru WMO bersama International Research Institute for Climate and Society (IRI), yang menggabungkan prakiraan dari pusat meteorologi di berbagai negara.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta pemerintah mempercepat langkah persiapan menghadapi potensi dampak El Nino. Menurutnya, fenomena tersebut dapat memperburuk dampak pemanasan global.
“Ilmu pengetahuan sudah jelas: El Nino akan tiba dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90 persen,” kata Guterres dikutip Earth, Kamis (13//8).
Ia memperingatkan dampaknya dapat mencakup gelombang panas, kekeringan, hingga hujan ekstrem yang meluas lintas wilayah.
Air Pasifik mulai menghangat
El Nino merupakan salah satu fase dari siklus alami laut dan atmosfer yang juga mencakup La Niña. Siklus tersebut biasanya berulang setiap dua hingga tujuh tahun, sementara setiap fasenya berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Pada El Nino, suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya.
Data hingga akhir April dan pertengahan Mei menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan tersebut terus bergerak mendekati ambang yang digunakan WMO untuk menetapkan terjadinya El Nino.
Pemanasan juga terlihat di bawah permukaan laut. Suhu perairan bawah permukaan di wilayah Pasifik tropis disebut hampir 6 derajat Celsius lebih tinggi dari rata-rata dan turut mendorong pemanasan di permukaan.
Kondisi atmosfer juga menunjukkan pola yang sejalan dengan perkembangan El Nino. Salah satu indikatornya adalah perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin, Australia, yang tercermin dalam Southern Oscillation Index.
WMO waspadai El Nino kuat
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan perkembangan terbaru menunjukkan kemungkinan El Nino yang bukan sekadar fenomena lemah.
“Kita perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat,” ujar Saulo.
Menurutnya, El Nino dapat memperparah kekeringan dan hujan lebat sekaligus meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan.
El Nino 2023-2024 sebelumnya tercatat sebagai salah satu dari lima El Nino terkuat yang pernah terjadi. Fenomena tersebut juga berkontribusi terhadap rekor suhu global pada 2024.
WMO akan terus memperbarui pemantauan setiap bulan seiring perubahan kondisi laut dan atmosfer.
Indonesia termasuk wilayah yang perlu waspada
Dampak El Nino tidak sama di seluruh dunia. Kekuatan, waktu terjadinya, serta interaksinya dengan pola iklim lain menentukan bagaimana dampaknya berkembang di masing-masing wilayah.
Sejumlah wilayah cenderung mengalami kondisi lebih basah ketika El Nino terjadi, termasuk Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika dan Asia Tengah.
Sebaliknya, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, serta sebagian Asia Selatan cenderung mengalami kondisi yang lebih kering.
Bagi Indonesia, pola tersebut menjadi perhatian karena kondisi yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kekeringan dan dampak turunannya, terutama apabila berlangsung bersamaan dengan suhu yang lebih tinggi.
Namun, pola tersebut merupakan kecenderungan umum dan tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kondisi yang sama.
Dampaknya bisa lebih besar di tengah pemanasan global
Para ilmuwan masih meneliti bagaimana perubahan iklim memengaruhi frekuensi dan kekuatan El Nino.
Yang menjadi perhatian, atmosfer dan lautan yang semakin hangat menyediakan lebih banyak panas dan uap air. Akibatnya, El Nino dengan kekuatan yang sama dapat berkontribusi terhadap gelombang panas yang lebih intens dan hujan yang lebih deras dibandingkan kondisi sebelumnya.
WMO sendiri tidak menggunakan istilah “super El Nino” sebagai klasifikasi resmi. Karena itu, kekuatan El Nino 2026 masih perlu terus dipantau berdasarkan perkembangan indikator laut dan atmosfer.
Selain El Nino, WMO juga memperhitungkan kemungkinan perubahan pola Indian Ocean Dipole (IOD) yang dapat memasuki fase hangat pada periode yang berdekatan.
Pembaruan WMO berikutnya diharapkan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai seberapa kuat El Nino 2026 akan berkembang. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Organisasi Meteorologi Dunia El Nino Pemanasan Global









