Senin, 10/08/2026 11:36 WIB

Sahel Afrika Mulai Menghijau, Air Tanah dan Danau Chad Ikut Pulih





Wilayah Sahel di Afrika yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan rawan kekeringan mulai mengalami perubahan

Wilayah Sahel di Afrika yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan rawan kekeringan mulai menghijau (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Wilayah Sahel di Afrika yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan rawan kekeringan mulai mengalami perubahan. Curah hujan yang kembali meningkat membuat air tanah naik, lahan pertanian lebih produktif, dan sejumlah ekosistem yang sempat tertekan mulai pulih.

Sahel merupakan wilayah semi-kering yang membentang sekitar 800 kilometer dari Senegal hingga Ethiopia. Kawasan ini dihuni lebih dari 150 juta orang dan berada di antara Gurun Sahara di utara serta padang sabana dan hutan di selatan.

Dikutip dari Live Science, perubahan paling terlihat terjadi pada cadangan air. Di sejumlah wilayah Niger, permukaan air tanah rata-rata dilaporkan naik sekitar 13 kaki atau hampir 4 meter, yang menunjukkan peningkatan cadangan air akuifer sekitar 15 persen.

Data lapangan tersebut juga diperkuat pengamatan satelit NASA yang menunjukkan peningkatan penyimpanan air di daratan Sahel dalam dua dekade terakhir.

Danau Chad juga menunjukkan tanda pemulihan. Pada 2024, luas permukaan danau mencapai lebih dari 9.000 mil persegi, hampir menyamai kondisi pada 1960-an dan sekitar 10 kali lebih luas dibandingkan pertengahan 1980-an.

Kembalinya air membawa perubahan langsung bagi masyarakat. Di Chad, petani mulai mendapatkan kembali akses terhadap air untuk mengembangkan lahan pertanian. Salah seorang petani bahkan dilaporkan dapat menanam di lahan empat kali lebih luas dan menggandakan produksi bawangnya.

Perubahan juga terlihat pada ekosistem. Di kawasan Ouadi Rime-Ouadi Achim di Chad, meningkatnya air di sistem sungai musiman atau wadi membantu pemulihan populasi sejumlah satwa. Oryx bertanduk pedang yang sebelumnya dinyatakan punah di alam liar kini telah mencapai lebih dari 600 individu setelah program reintroduksi.

Namun, perubahan tersebut bukan berarti Sahel terbebas dari ancaman. Hujan yang meningkat justru semakin sering turun dalam bentuk hujan ekstrem dan badai besar. Frekuensi badai ekstrem di wilayah tersebut dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibandingkan 1980-an.

Niger menjadi salah satu contoh perubahan risiko tersebut. Jika sebelumnya kekeringan dan kelaparan menjadi ancaman utama, kini banjir semakin sering menimbulkan korban dan kerusakan. Pada musim hujan 2024, banjir merendam sebagian wilayah ibu kota Niamey dan menghancurkan lebih dari 150.000 rumah berbahan bata lumpur di kawasan pedesaan.

Para hidrolog menilai hujan ekstrem juga memiliki sisi lain yang membantu pengisian kembali air tanah. Ketika hujan deras jatuh di permukaan tanah yang telah mengeras akibat kekeringan, air mengalir menuju sungai dan wadi sebelum akhirnya meresap ke dalam akuifer.

Karena itu, intensitas hujan dalam beberapa kondisi justru lebih menentukan pengisian air tanah dibandingkan total curah hujan tahunan.

Perubahan iklim turut menjadi bagian dari penjelasan. Pemanasan Atlantik Utara akibat pemanasan global dan berkurangnya aerosol sulfat dari pembakaran batu bara di Eropa serta Amerika Utara disebut berkontribusi terhadap pergeseran monsun Afrika Barat lebih jauh ke utara. Kondisi itu membuat Sahel menerima lebih banyak hujan dibandingkan periode kekeringan sebelumnya.

Perubahan penggunaan lahan juga berperan. Program Great Green Wall dan berbagai metode tradisional pemanenan air, seperti membuat lubang zai, tanggul batu serta cekungan di sekitar tanaman, membantu menahan air dan memperbaiki kelembapan tanah di sejumlah lokasi.

Berkurangnya penggunaan air untuk irigasi skala besar juga diduga ikut meningkatkan aliran air menuju Danau Chad dan memperbesar pengisian kembali air tanah. Di beberapa wilayah, proyek irigasi mengalami penurunan aktivitas akibat buruknya infrastruktur, pengelolaan, serta konflik dan perpindahan penduduk.

Para peneliti memperkirakan peningkatan curah hujan masih dapat berlanjut dalam beberapa dekade mendatang. Namun, hujan Sahel tetap sulit diprediksi dan dapat berbeda tajam antarwilayah.

Artinya, pemulihan air di Sahel membuka peluang bagi pertanian dan ekosistem, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko banjir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut memanfaatkan bertambahnya cadangan air tanpa mengabaikan risiko cuaca ekstrem, termasuk El Nino, yang semakin besar. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Sahel Afrika Pemulihan Populasi Curah Hujan El Nino




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :