Ilustrasi makanan sehat (Foto: Unsplash/Ryland Dean)
Jakarta, Jurnas.com - Pada 2050, keluarga berpenghasilan rendah di sejumlah wilayah dunia berpotensi menghabiskan hampir separuh pendapatannya hanya untuk membeli makanan.
Sementara itu, kelompok berpenghasilan tinggi di wilayah yang sama diperkirakan hanya mengalokasikan sekitar 5 persen pendapatan untuk kebutuhan pangan.
Temuan tersebut berasal dari studi yang melibatkan ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT), termasuk Jennifer Morris, bersama peneliti dari Tulane University, Pacific Northwest National Laboratory, Stanford University, dan Tufts University.
DIkutip dari Earth, penelitian itu menunjukkan kesenjangan ketahanan pangan, energi, dan air dapat semakin lebar pada 2050. Kelompok berpenghasilan rendah diproyeksikan menghadapi risiko ketidakamanan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok berpenghasilan tinggi.
“Untuk banyak hasil ini, kelompok berpenghasilan rendah menghadapi potensi ketidakamanan yang jauh lebih buruk,” kata Morris.
Menurut Morris, temuan tersebut dapat membantu pembuat kebijakan memahami seperti apa risiko sumber daya dalam jangka panjang bagi kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan berbeda.
Beban tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi. Ketika sekitar setengah pendapatan harus digunakan untuk membeli makanan, hanya sedikit sumber daya yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan penting lain dalam kehidupan sehari-hari.
“Segala sesuatu yang menghabiskan setengah pendapatan berpotensi mengganggu seluruh kehidupan karena menyisakan begitu sedikit sumber daya untuk kebutuhan penting dan kebutuhan dasar lainnya,” ujar Morris.
Untuk melihat berbagai kemungkinan kondisi pada 2050, para peneliti membangun proyeksi mengenai akses terhadap pangan, air, dan energi dengan mempertimbangkan sekitar 12 variabel utama.
Faktor yang dimasukkan antara lain kondisi ekonomi, produksi pertanian, perdagangan, iklim, penggunaan lahan, sistem energi, ketersediaan air, perilaku konsumen, populasi, produk domestik bruto, distribusi pendapatan, hingga intensitas karbon.
Alih-alih membuat satu ramalan mengenai masa depan, peneliti menjalankan 3.735 skenario berbeda untuk memetakan berbagai kondisi yang secara masuk akal dapat terjadi pada 2050.
Gi Joo Kim, ilmuwan peneliti dari Tulane University sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan tidak ada satu faktor yang dapat menjelaskan seluruh risiko ketidakamanan pangan, energi, dan air di masa depan.
“Pendapatan memang penting, tetapi kondisi regional, penggunaan lahan, sistem energi, ketersediaan air, dan perilaku konsumen semuanya membentuk risiko yang dihadapi masyarakat,” kata Kim.
Pendekatan tersebut penting karena kondisi setiap wilayah berbeda. Faktor yang membuat masyarakat rentan di satu kawasan belum tentu sama dengan yang terjadi di wilayah lain.
Hasil pemodelan menunjukkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan pada 2050 paling berat diproyeksikan terjadi di sejumlah wilayah Afrika Sub-Sahara.
Di Afrika bagian selatan, kelompok 10 persen masyarakat dengan pendapatan terendah diproyeksikan menghabiskan 49,6 persen pendapatan untuk makanan. Sebagai perbandingan, 10 persen kelompok berpendapatan tertinggi di wilayah yang sama diperkirakan hanya mengalokasikan 5,5 persen pendapatannya untuk pangan.
Kesenjangan serupa terlihat di Afrika Barat dan Afrika Timur. Beban pangan kelompok berpendapatan terendah diproyeksikan masing-masing mencapai 48,4 persen dan 42,5 persen dari pendapatan.
Perbandingan dengan kondisi 2015 juga menunjukkan besarnya rentang kemungkinan yang dihadapi kelompok berpenghasilan rendah.
Di Afrika Barat, kelompok berpendapatan terendah pada 2015 menghabiskan sekitar 25 persen pendapatannya untuk makanan. Untuk 2050, berbagai skenario menghasilkan proyeksi mulai dari sekitar 20 persen hingga 75 persen.
Di Afrika bagian selatan, kelompok yang sama pada 2015 mengalokasikan sekitar 20 persen pendapatan untuk makanan. Pada 2050, proyeksinya berkisar antara 25 hingga 65 persen.
Rentang yang lebar tersebut menunjukkan bahwa masa depan ketahanan pangan sangat bergantung pada skenario yang akhirnya terjadi.
Tekanan terhadap kebutuhan dasar tidak hanya terlihat dari pangan. Ketahanan energi juga menunjukkan kesenjangan yang besar antara kelompok berpendapatan rendah dan tinggi.
Di sejumlah wilayah Timur Tengah, beban energi rumah tangga pada 2050 diproyeksikan mencapai 18,9 persen pendapatan bagi kelompok berpenghasilan terendah, sedangkan kelompok berpenghasilan tertinggi hanya sekitar 1,7 persen.
Di Eropa Timur, kelompok berpenghasilan terendah diproyeksikan menanggung beban energi sebesar 11,3 persen pendapatan, sementara kelompok berpenghasilan tertinggi berada di bawah 5 persen.
Kim memperingatkan bahwa angka rata-rata suatu wilayah dapat menyamarkan risiko yang sebenarnya dihadapi kelompok paling rentan.
“Rata-rata regional dapat membuat risiko ketahanan sumber daya di masa depan terlihat lebih mudah dikelola daripada kenyataannya,” ujarnya.
Menurut dia, analisis yang hanya melihat angka rata-rata berisiko mengabaikan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan di masa depan.
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Global Change Analysis Model (GCAM) versi 7.1, yang mensimulasikan hubungan antara energi, ekonomi, air, lahan, dan iklim.
Model tersebut mencakup 32 wilayah dunia, 235 daerah aliran air, dan 384 wilayah penggunaan lahan.
Para peneliti sebelumnya telah menilai bahwa kajian jangka panjang mengenai sumber daya perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap perbedaan kondisi sosial ekonomi dalam suatu wilayah. Studi terbaru ini dikembangkan untuk memodelkan bagaimana perubahan tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan manusia.
Kim menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak dirancang untuk menentukan satu masa depan yang paling mungkin terjadi.
“Metode kami dirancang untuk mengidentifikasi kondisi yang menghasilkan berbagai hasil ketahanan sumber daya, bukan untuk memprediksi satu masa depan yang paling mungkin,” kata Kim.
Morris menilai pendekatan berbasis berbagai skenario justru dapat digunakan secara lebih luas karena membantu menunjukkan wilayah dan kelompok masyarakat yang berpotensi menghadapi tekanan terbesar.
Studi mengenai proyeksi ketahanan pangan, energi, dan air tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Earth’s Future. (*)
Sumber: Earth
Jum'at, 11/09/2026 11:57 WIB