Ilustrasi pasien paru obstruktif kronis (Foto: Earth)
Ankara, Jurnas.com - Terapi tertawa terstruktur dilaporkan dapat membantu penderita penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease atau COPD) mengurangi rasa sesak napas, dan meningkatkan kualitas hidup. Temuan ini diperoleh melalui uji klinis yang dilakukan oleh para peneliti di Ankara Bilkent City Hospital, Turki.
Studi yang dipimpin oleh Dr. Goncagul Aldan dari Hacettepe University melacak 63 pasien dewasa yang dibagi ke dalam tiga kelompok uji, yakni kelompok terapi tertawa, kelompok latihan pernapasan bibir (pursed-lip breathing), dan kelompok kontrol.
Dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan secara resmi dalam European Respiratory Journal, kedua kelompok aktif menjalani latihan selama 30 menit sebanyak tiga kali seminggu dalam jangka waktu delapan minggu.
"COPD adalah penyakit paru serius yang membuat penderitanya sulit bernapas. Penderita COPD sering merasa sesak napas bahkan saat melakukan aktivitas harian yang sederhana. Hal ini menurunkan kualitas hidup mereka dan membuat mereka makin bergantung pada orang lain," ujar Dr. Goncagul Aldan, sebagaimana dikutip dari Earth.
Program terapi tertawa yang diterapkan tidak sekadar menonton tayangan lucu, melainkan melibatkan teknik terstruktur seperti tepuk tangan berirama, latihan vokal, meditasi tertawa spontan, hingga pernapasan tenang dan relaksasi.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pasien pada kelompok terapi tertawa dan latihan pernapasan bibir mengalami penurunan tingkat keparahan sesak napas yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Manfaat penurunan sesak napas ini bahkan tetap bertahan hingga empat minggu setelah program latihan berakhir.
Secara mekanis, gerakan tertawa dinilai mampu melatih otot-otot pernapasan dan membantu penderita mengembuskan napas lebih dalam untuk mengeluarkan udara jebakan di dalam paru-paru. Selain itu, aktivitas tertawa merangsang pelepasan hormon kebahagiaan yang mendukung kenyamanan fisik serta emosional pasien.
Wakil Presiden European Respiratory Society Dr. Marc Miravitlles menilai hasil uji klinis ini sangat menjanjikan sebagai terapi pendamping yang murah dan mudah diakses.
Meski demikian, sejumlah peneliti menegaskan bahwa terapi tertawa tidak menyembuhkan atau memperbaiki kerusakan organ paru-paru secara medis, sehingga harus tetap dikombinasikan dengan pengobatan rutin.
Kamis, 10/09/2026 21:23 WIB