https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Begini Penjelasan BMKG soal Perbedaan El Nino dan Musim Kemarau

Agus Mughni | Selasa, 30/06/2026 14:05 WIB



BMKG: perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda Ilustrasi musim kemarau mulai menyapa (Foto: Pexels/Andre Furtado)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, meski keduanya sama-sama dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan musim kemarau merupakan siklus iklim tahunan, sedangkan El Nino adalah fenomena iklim global yang terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

"Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda," kata Faisal dalam siaran pers, Selasa (30/6).

Baca juga :
BMKG : Waspadai Fenomena El Nino Kuat Bertepatan dengan Musim Kemarau

"Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau," kata Faisal lagi.

Hal tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Baca juga :
Mendagri Minta Kepala Daerah hingga Kades Antisipasi Dampak El Nino

Dalam kesempatan itu, Faisal menyampaikan hasil pemantauan BMKG terbaru menunjukkan El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan.

Namun, Faisal menegaskan durasi El Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau selama periode tersebut.

Baca juga :
Gelombang Air Hangat Raksasa Terdeteksi, El Nino Diprediksi Sangat Kuat

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujarnya.

BMKG memperkirakan dampak El Nino paling terasa pada Juli hingga Oktober 2026, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan yang berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal.

Selain meningkatkan risiko kekeringan, El Nino juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, menurunkan kualitas udara, mengganggu sektor pertanian, mengurangi ketersediaan air, hingga meningkatkan risiko penyakit seperti ISPA dan gangguan kesehatan akibat suhu panas.

Karena itu, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan diingatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan kebijakan, mengingat setiap daerah memiliki karakteristik iklim yang berbeda.

 
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Info BMKG El Nino Musim Kemarau

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777