Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih di Washington, AS, 4 Februari 2025. REUTERS
Ljubljana, Jurnas.com - Pemerintahan baru Slovenia yang dipimpin oleh kubu konservatif resmi mencabut embargo senjata terhadap Israel, serta membatalkan larangan masuk bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan dua menterinya pada Kamis (11/6) kemarin.
Kebijakan ini membalikkan keputusan pengetatan yang sempat diberlakukan oleh pemerintahan liberal sebelumnya di bawah Perdana Menteri Robert Golob tahun lalu akibat eskalasi perang di Gaza.
Langkah normalisasi tersebut diambil oleh pemerintahan Perdana Menteri Janez Jansa yang baru saja menjabat pekan lalu. Kabinet baru tersebut memulihkan status kunjungan bagi Netanyahu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, serta Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang sebelumnya masuk dalam daftar cekal.
“Ini akan memulihkan kondisi untuk dialog politik yang normal dengan Israel,” kata pemerintah Slovenia dikutip dari Reuters pada Jumat (12/6).
Ljubljana juga memilih untuk membiarkan masa berlaku embargo senjata habis tanpa memperpanjangnya kembali, dengan dalih bahwa dekrit khusus tersebut sudah tidak diperlukan lagi mengingat adanya undang-undang pertahanan nasional serta kriteria ekspor senjata yang telah diatur oleh Uni Eropa.
Perubahan haluan politik Jansa, yang dikenal sebagai pengagum Presiden AS Donald Trump, juga berlanjut pada penghapusan larangan impor atas produk-produk dari permukiman Yahudi di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Sebagai bentuk respons positif atas pelunakan sikap ini, pemerintah Israel mengumumkan rencana pembukaan kedutaan besar mereka di Slovenia pekan lalu sebagai penanda dimulainya babak baru hubungan bilateral kedua negara.
Sejak resmi memegang kendali pemerintahan, kabinet Jansa secara simbolis juga langsung menurunkan bendera Palestina yang sebelumnya dipasang di gedung pemerintahan sejak Slovenia mengakui kedaulatan negara Palestina pada 2024.
Upaya diplomasi ini sekaligus mengakhiri ketegangan hubungan bilateral yang sempat memuncak di era pemerintahan kiri-tengah Robert Golob, yang bahkan sempat mengategorikan operasi militer Israel di Gaza sebagai bentuk tindakan genosida.
Jum'at, 12/06/2026 14:01 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB