https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Ilmuwan Ungkap Lempeng Tektonik Purba Masih Aktif di Kedalaman 1.800 Mil

Agus Mughni | Sabtu, 02/05/2026 21:05 WIB



Para ilmuwan menemukan bahwa lempeng tektonik purba yang telah lama tenggelam jauh ke dalam Bumi ternyata masih aktif memengaruhi struktur planet Gambaran lempeng tektonik purba beserta inti bumi (Foto: Earth)

Jakarta, urnas.com - Para ilmuwan menemukan bahwa lempeng tektonik purba yang telah lama tenggelam jauh ke dalam Bumi ternyata masih aktif memengaruhi struktur planet hingga kedalaman sekitar 1.800 mil (sekitar 2.900 kilometer).

Temuan ini mengubah pemahaman lama bahwa sisa-sisa lempeng tersebut hanya “fosil geologi”, menjadi bagian aktif dalam dinamika interior Bumi.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Seismic Record ini menunjukkan bahwa sisa lempeng tektonik yang tertimbun mampu menyebabkan deformasi pada lapisan mantel terdalam, tepat di atas batas inti Bumi. Pola deformasi ini terdeteksi melalui analisis gelombang gempa yang mengungkap adanya perubahan struktur batuan di kedalaman ekstrem.

Baca juga :
Studi Ungkap Inti Bumi Bocorkan Emas, Ilmuwan Temukan Jejaknya dalam Lava

Dikutip dari Earth, geofisikawan Jonathan Wolf dari University of California Berkeley menjelaskan bahwa deformasi di mantel atas umumnya disebabkan oleh pergerakan lempeng di permukaan. “Kita tahu bahwa deformasi di mantel atas didominasi oleh tarikan lempeng yang bergerak di atasnya,” ujarnya.

Namun, di bagian terdalam mantel, para peneliti menemukan fenomena berbeda. Gelombang geser dari gempa bumi terpecah saat melewati batuan yang mengalami tekanan tertentu. Fenomena ini dikenal sebagai anisotropi seismik, yaitu kondisi ketika gelombang bergerak dengan kecepatan berbeda tergantung arah, yang menjadi indikator adanya deformasi di dalam Bumi.

Baca juga :
Catatan Seismik Buktikan Struktur Inti Bumi Terus Berubah

Penelitian ini juga menyoroti proses subduksi, yakni ketika satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lainnya dan tenggelam ke dalam mantel. Selama jutaan tahun, lempeng yang tenggelam ini dapat bergerak sangat dalam, menyebar, melengkung, bahkan mendorong batuan di sekitarnya.

Untuk menguji hubungan tersebut, tim peneliti menganalisis lebih dari 16 juta data seismogram dari 24 pusat data di seluruh dunia. Setelah melalui proses seleksi ketat, sekitar 70.000 data digunakan untuk membandingkan kondisi mantel di berbagai wilayah Bumi.

Baca juga :
Inti Bumi Bukan Padat atau Cair, Ini Material Penyusunnya

Hasilnya, sekitar dua pertiga wilayah yang diteliti menunjukkan adanya anisotropi, dengan tingkat kemunculan lebih tinggi di area yang kaya sisa lempeng tektonik. Sekitar 85 persen wilayah dengan sisa lempeng menunjukkan tanda deformasi, dibandingkan 63 persen di luar area tersebut.

Selain itu, penelitian menemukan bahwa wilayah dengan sisa lempeng cenderung lebih dingin dibandingkan batuan di sekitarnya. Hal ini membuat gelombang gempa merambat lebih cepat, sehingga memperkuat indikasi bahwa sisa lempeng berperan besar dalam membentuk struktur mantel terdalam.

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh transformasi mineral akibat tekanan dan suhu tinggi. Mineral di kedalaman ekstrem dapat berubah menjadi bentuk yang lebih padat, seperti postperovskit, yang memengaruhi arah perambatan gelombang seismik.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa tidak ditemukannya sinyal deformasi bukan berarti wilayah tersebut benar-benar stabil. Keterbatasan data dan cakupan pengamatan masih menjadi tantangan dalam memahami struktur mantel secara menyeluruh.

Wolf berharap ke depan para ilmuwan dapat memperoleh data yang lebih lengkap untuk memetakan aliran mantel secara global. “Jika memungkinkan, suatu hari nanti kita akan memiliki cukup informasi untuk memahami arah aliran mantel terdalam secara lebih jelas,” katanya.

Temuan ini memperkuat teori konveksi mantel global, yaitu pergerakan lambat batuan padat di dalam Bumi yang menghubungkan aktivitas permukaan dengan proses di kedalaman. Meski tidak berdampak langsung pada bencana di permukaan, penelitian ini penting untuk memahami bagaimana Bumi melepaskan panas, mendaur ulang kerak, dan terus berevolusi selama jutaan tahun. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Lempeng Tektonik Purba Inti Bumi Fosil Geologi

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777