Pemulangan warga Afganistan yang membantu militer AS dari Qatar (Foto: AP)
Kabul, Jurnas.com - Kementerian Luar Negeri Afghanistan menyatakan bahwa warga negaranya yang sebelumnya membantu upaya perang Amerika Serikat dan kini tertahan di Qatar, dapat pulang ke tanah air dengan aman.
Jaminan ini muncul di tengah laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan untuk merelokasi para pengungsi tersebut ke Republik Demokratik Kongo.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan, Abdul Qahar Balkhi, menegaskan bahwa pintu bagi seluruh warga Afghanistan tetap terbuka dan mengimbau mereka untuk kembali dengan rasa tenang.
"Afghanistan merupakan tanah air bersama bagi seluruh warga Afghanistan. Kami mengundang semua pihak yang berkepentingan untuk kembali ke tanah air dengan kepercayaan penuh dan ketenangan pikiran," tulis Balkhi dalam pernyataan resminya pada Sabtu (25/4).
Balkhi juga menambahkan bahwa otoritas Afghanistan siap bekerja sama dengan negara lain dan menegaskan tidak ada ancaman keamanan yang memaksa warga untuk meninggalkan negara tersebut.
Pernyataan ini merupakan respons atas laporan dari organisasi #AfghanEvac yang menyebutkan adanya diskusi antara pejabat AS dan Kongo untuk menampung sekitar 1.100 pengungsi di Kamp As-Sayliyah, Doha.
Para pengungsi tersebut terdiri dari warga yang membantu militer AS selama perang, serta kerabat dari personel militer AS yang telah berada dalam ketidakpastian selama satu tahun terakhir.
Meski Departemen Luar Negeri AS menyatakan sedang mencari opsi pemukiman kembali secara sukarela di negara ketiga, para pengungsi mengecam keras opsi relokasi ke Kongo maupun kepulangan ke Afghanistan.
"Kami katakan dengan jelas, kami tidak ingin pergi ke Republik Demokratik Kongo. Itu adalah negara yang sedang dilanda perangnya sendiri. Kami sudah cukup merasakan perang dan tidak ingin membawa anak-anak kami ke sana," kata kelompok pengungsi dalam pernyataan bersama.
Terkait tawaran kepulangan ke Kabul, para pengungsi menyatakan ketakutan besar akan aksi balas dendam dari Taliban meski ada jaminan keamanan. Mereka menegaskan bahwa bekerja untuk Amerika Serikat selama dua dekade terakhir membuat nyawa mereka terancam jika harus kembali ke tanah air.
Situasi ketidakpastian ini dilaporkan telah memicu depresi berat dan gangguan kesehatan mental di kalangan pengungsi di Qatar. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan Presiden Donald Trump yang menghentikan program pemukiman kembali pengungsi Afghanistan sejak tahun lalu sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB
Sabtu, 25/04/2026 20:05 WIB