Perang saudara memicu kelaparan di Sudan (Foto: Reuters)
Berlin, Jurnas.com - Jerman akan menyuntikkan dana tambahan sebesar €20 juta atau Rp404 miliar untuk Sudan pada 2026, dengan komitmen pendanaan lebih lanjut yang masih dalam kajian.
Kementerian Pembangunan Jerman sebelumnya telah menggelontorkan €155,4 juta untuk proyek-proyek di Sudan dan negara-negara tetangga yang terdampak perang Sudan hingga akhir 2025, dan akan menambah €20 juta lagi pada 2026.
Perang Sudan antara tentara reguler dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces, yang memasuki tahun ketiga pada 15 April ini, telah menyebabkan kelaparan meluas dan memaksa jutaan orang mengungsi di tengah salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Jerman bertujuan mengumpulkan janji pendanaan minimal €1 miliar dalam konferensi tersebut. "Sepertinya itu bisa tercapai," kata Menteri Luar Negeri Johann Wadephul dikutip dari Reuters pada Rabu (15/4).
Namun, menurut dia memastikan kecukupan dana untuk krisis-krisis semacam ini merupakan tugas yang sangat berat, terutama di tengah perang yang masih berkecamuk di Iran dan Ukraina serta mundurnya AS dari komitmen bantuan internasional, tambahnya.
"Kita harus berupaya mengkompensasi apa yang gagal dilakukan oleh pihak lain, termasuk Amerika Serikat," dia menambahkan.
Dia juga menyebut bahwa menyediakan dana bantuan merupakan kepentingan Jerman guna mencegah orang-orang menghadapi kelaparan, dan menghindari terulangnya arus masuk migran besar-besaran dari Timur Tengah seperti yang terjadi pada 2015-2016.
Tiga tahun perang menghancurkan Sudan. Lebih dari 150.000 orang dilaporkan tewas, sementara sekitar 33,7 juta orangatau dua pertiga dari total penduduk negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.
Sekitar 14 juta orang telah terusir dari tempat tinggal mereka sejak konflik meletus pada April 2023, menjadikan Sudan sebagai krisis pengungsian terbesar dan paling cepat berkembang di dunia saat ini.
Kondisi pangan juga berada di titik kritis. Berdasarkan data PBB, setidaknya 21,2 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi, dengan 375.000 di antaranya mengalami kondisi kelaparan setara fase 5, yakni tingkat kelaparan paling parah.
Sistem kesehatan Sudan juga lumpuh, dengan kurang dari 25 persen rumah sakit yang masih beroperasi, membuat jutaan warga tidak memiliki akses terhadap layanan medis di tengah merebaknya berbagai wabah penyakit.
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB