https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mencintai Sesama Cerminan Kesempurnaan Iman, Benarkah Demikian?

Agus Mughni | Jum'at, 03/10/2025 13:12 WIB



Salah satu persoalan besar zaman sekarang adalah melemahnya kepedulian antar sesama. Banyak orang sibuk dengan urusan pribadinya sehingga lupa memenuhi hak-hak saudaranya. Ilustrasi sedang berbagi - mencintai sesama manusia (Foto: Pexels/Samuel Peter)

Jakarta, Jurnas.com - Salah satu persoalan besar zaman sekarang adalah melemahnya kepedulian antar sesama. Banyak orang sibuk dengan urusan pribadinya sehingga lupa memenuhi hak-hak saudaranya.

Padahal, Islam datang menegakkan kasih sayang dan persaudaraan yang kokoh sebagai pondasi kehidupan bermasyarakat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa iman seseorang tidak sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, takwa yang hakiki bukan hanya soal rajin beribadah, tetapi juga mewujudkan akhlak mulia dalam interaksi sehari-hari. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan pentingnya saling mengenal dan menghormati tanpa memandang perbedaan.

Baca juga :
Studi Ungkap Alasan Manusia Bisa Terikat Emosional dengan Benda Mati dan AI

Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah diukur dari ketakwaannya, bukan dari suku, bangsa, atau status duniawi. Dengan demikian, perbedaan justru menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan menolong dalam kebaikan.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa iman tidak sempurna hingga seseorang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini berarti menghendaki kebaikan untuk orang lain sama seperti diri sendiri dan membenci keburukan bagi mereka.

Baca juga :
Menag: Tak Ada Dalil yang Bisa Menyebabkan Perempuan Itu Terpinggirkan

Para ulama seperti Imam al-Qurthubi dan Imam al-Munawi menjelaskan bahwa iman seseorang tidak sempurna hingga ia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri, dan membenci keburukan yang menimpa mereka. Sebagaimana satu tubuh, jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan.

Seperti satu tubuh yang merasakan sakit jika salah satu bagiannya terluka, demikian pula kaum mukminin harus saling merasakan dan peduli. Oleh karena itu, cinta kepada sesama bukan tambahan, melainkan syarat kesempurnaan iman.

Baca juga :
Mengenal Hari Tasyrik: Makna, Asal Usul hingga Larangan Puasa

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa orang yang penyayang akan mendapat rahmat dari Allah Yang Maha Penyayang. Kasih sayang ini tidak hanya berlaku untuk sesama muslim, tetapi juga mencakup seluruh makhluk di bumi.

Wujud nyata cinta sesama bisa dilihat dari sikap memberi, menolong, dan menjauhi perbuatan zalim. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam dan juga diadopsi dalam Kurikulum Berbasis Cinta oleh Kementerian Agama RI yang menanamkan nilai cinta kepada Allah, manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan.

Rasulullah adalah teladan utama dalam menebarkan kasih sayang, baik kepada anak-anak, orang tua, maupun tetangga yang berbeda keyakinan. Sikap beliau menjadi contoh bagaimana cinta sesama membentuk akhlak mulia sebagai ciri orang bertakwa.

Dengan demikian, jika ingin meraih rahmat dan cinta Allah, maka kita harus mengasihi sesama manusia hingga sesama makhluk Allah SWT. Cinta dan kasih sayang kepada sesama adalah bukti nyata ketakwaan dan kesempurnaan iman yang mempererat persaudaraan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (*)

Wallahu`alam

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Mencintai Sesama Manusia Makhluk Hidup Kesempurnaan Iman Islam

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777