https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Gus Jazil: Politik Identitas Adalah Momok yang Harus Dihindari

Aliyudin Sofyan | Kamis, 16/12/2021 11:12 WIB



Penerapan saling jegal dan saling fitnah asal tujuan diperoleh sangat kental terjadi di politik indentitas. Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. (Foto: MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, menegaskan bahwa tahun politik 2022 harus ditandai dengan kompetisi yang tidak merugikan rakyat. Seluruh partai politik harus mengutamakan kepentingan rakyat secara keseluruhan, sehingga pada akhirnya kompetisi politik akan menimbulkan kesan baik untuk rakyat.

"Mengapa hal itu sangat saya tekankan, sebab di 2022 dan tahun-tahun berikutnya, kita akan konsentrasi bangkit pasca terpuruk akibat pandemi covid-19. Kalau tahun 2022 malah ditandai dengan egosime partai, itu akan berbahaya buat eksistensi bangsa ini ke depan. Saya berharap tahun ini menjadi titik kulminasi politik untuk kepentingan bersama bukan politik identitas" katanya.

Hal tersebut disampaikan Pimpinan MPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang biasa disapa Gus Jazil ini, saat menjadi narasumber acara Diskusi Empat Pilar MPR kerjasama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR dengan Koordinatoriat wartawan Parlemen (KWP), di Media Center MPR/DPR/DPD, Lobi Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/12/2021).

Baca juga :
Lestari Moerdijat: Bangun Ekosistem Literasi dengan Langkah Nyata

Lebih jauh, Gus Jazil mengungkapkan bahwa politik identitas adalah momok negatif yang semestinya dihindari sejauh-jauhnya dari kehidupan demokrasi bangsa Indonesia. Dijelaskannya, politik identitas hanya mementingkan kelompoknya sendiri yang biasanya berbasis agama dan suku. 

"Penerapan saling jegal dan saling fitnah asal tujuan diperoleh sangat kental terjadi di politik indentitas. Itu yang harus kita bersama-sama hindari," tambahnya.

Baca juga :
MPR Dorong Nasionalisme Generasi Muda Lewat LKBB-PB NTB 2026 di Mataram

Ada beberapa solusi, lanjut Gus Jazil, yang bisa dilakukan untuk menurunkan bahkan menghindari politik identitas ini.  Salah satunya adalah, kebijakan menurunkan angka Presidential Threshold (PT).

Jika PT ini turun akan membuka potensi pasangan calon bisa lebih dari dua. Hal ini membuat rakyat memiliki banyak pilihan sehingga tidak terkonsentrasi kepada satu sosok atau figur tertentu. Adapun konsekwensinya, jika lebih dari dua calon, potensi pemilihan dua putaran bisa terjadi.  Artinya, anggaran negara akan semakin besar.

Baca juga :
Eddy Soeparno Hormati SMAN 1 Pontianak, Tegaskan Tak Boleh Ada Intimidasi

"Jadi memang semua ada plus minusnya. Tapi, menurut saya kita semua akan merasakan kompetisi yang hangat dan tidak tegang," ucapnya.

Untuk mewujudkan itu, Gus Jazil berharap semua elemen masyarakat bersama-sama bergandeng tangan. Jika nanti ada parpol yang manuvernya memecah belah keutuhan bangsa, harus `disemprit` atau dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku. 

"Saya berandai-andai semoga jadi kenyataan, tahun 2024 nanti pesta demokrasi kita akan seperti taman bunga, akan banyak muncul tokoh bangsa yang maju sehingga banyak pilihan untuk rakyat, tetapi harus tetap dalam bingkai kerukunan. Tidak ada lagi ekstrim kanan atau kiri," tandasnya.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kinerja MPR Jazilul Fawaid Politik Identitas Demokrasi Partai

Humanika

Minggu, 05/07/2026 23:59 WIB

Apakah Sholat Safar Harus di Masjid?

Minggu, 05/07/2026 23:30 WIB

Lima Doa Setelah Melaksanakan Sholat Safar

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777