Presiden AS Joe Biden memberi isyarat saat dia meninggalkan Gereja Katolik Tritunggal Mahakudus pada hari Minggu. (Foto: Reuters)
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden menyinggun berbagai masalah yang berkaitan dengan Arab Saudi, Rusia dan China saatmenyampaikan pidato selama kunjungan pertamanya ke Departemen Luar Negeri pada Kamis (4/2).
Kebalikan dari kebijakan luar negeri pendahulunya Donald Trump, Biden mengatakan, AS mengakhiri dukungannya untuk perang yang dipimpin Arab Saudi di Yaman. Meksi begitu, dia akan tetap membantu Riyadh mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya.
"Perang ini harus diakhiri," kata Biden seperti dilansir dari Press TV. "Untuk menggarisbawahi komitmen kami, kami mengakhiri semua dukungan AS untuk operasi ofensif dalam perang di Yaman, termasuk penjualan senjata yang relevan."
Arab Saudi, ditemani sekutunya termasuk Uni Emirat Arab (UEA), memimpin perang melawan Yaman sejak Maret 2015 dengan tujuan membawa kembali pemerintahan yang pro-Riyadh ke tampuk kekuasaan.
Perang juga diiringi dengan pengepungan habis-habisan di negara miskin tersebut. Perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang Yaman dan mengubah Yaman menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Biden mengatakan AS menangguhkan penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA yang disahkan mantan Presiden Trump. Dia berjanji dalam kampanyenya untuk menilai kembali hubungan dengan kerajaan Arab Saudi.
Biden juga mengatakan telah mengatakan kepada mitranya dari Rusia Vladimir Putin bahwa hari-hari AS berguling-guling menghadapi aktivitas Rusia telah berakhir.
Selama panggilan telepon dengan Putin pekan lalu, Biden mengatakan telah mengemukakan sejumlah kekhawatiran AS, termasuk dugaan campur tangan Moskow dalam pemilu, dugaan pemberian hadiah kepada gerilyawan Taliban karena membunuh pasukan AS dan Ukraina.
"Kami tidak akan ragu menaikkan biaya pada Rusia dan mempertahankan kepentingan vital kami dan rakyat kami," kata Biden.
Badan intelijen AS mengklaim Moskow telah ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016 dengan kampanye peretasan email dan propaganda daring yang bertujuan untuk menyebarkan perselisihan di AS melukai kandidat Demokrat Hillary Clinton dan membantu Trump.
Sementara itu, Biden menyebut China sebagai pesaing paling serius AS, mencatat bahwa Washington siap untuk bekerja dengan Beijing ketika itu adalah kepentingannya untuk melakukannya.
"Kami akanmenghadapi secara langsung tantangan yang ditimbulkan (pada) kemakmuran, keamanan dan nilai-nilai demokrasi kami oleh pesaing kami yang paling serius, China," kata Biden.
"Kami siap untuk bekerja dengan Beijing, jika Amerika berkepentingan untuk melakukannya," katanya dalam pidatonya.
AS dan China berselisih mengenai masalah-masalah seperti Hong Kong dan Taiwan, patroli militer AS dan navigasi di Laut China Timur dan Selatan, virus korona dan pencurian rahasia perusahaan yang mengakibatkan penutupan konsulat diplomatik di kedua sisi.
Dua negara juga sedang perang perdagangan dan perang teknologi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Joe Biden China Amerika Serikat Rusia Arab Saudi


























