Kamis, 15/10/2026 14:08 WIB

Studi Ungkap Respons Otak Tak Terduga saat Nyeri Pinggang Kronis Kambuh





Bagi penderita nyeri punggung bawah kronis, gerakan sederhana seperti membungkuk untuk mengikat tali sepatu dapat memicu peningkatan rasa sakit

Ilustrasi - nyeri pinggang (Foto: Pixabay)

Jakarta, Jurnas.com - Nyeri pinggang kronis ternyata dapat memicu respons otak yang berbeda dari nyeri akut. Sebuah penelitian menemukan bahwa lonjakan rasa sakit setelah gerakan tertentu berkaitan dengan peningkatan aktivitas default mode network (DMN), jaringan otak yang berhubungan dengan refleksi diri, ingatan autobiografis, dan pikiran yang mengembara.

Temuan yang diterbitkan dalam British Journal of Anaesthesia pada 5 Oktober ini memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana otak memproses nyeri kronis. Hasilnya juga menunjukkan bahwa kambuhnya nyeri akibat gerakan mungkin melibatkan proses otak yang lebih kompleks daripada sekadar mendeteksi sensasi sakit.

Bagi penderita nyeri punggung bawah atau pinggang kronis, gerakan sederhana seperti membungkuk untuk mengikat tali sepatu atau mengangkat tas belanja dapat memicu peningkatan rasa sakit. Kondisi ini berbeda dari nyeri sesaat, misalnya ketika tangan menyentuh benda panas atau lutut terbentur.

Untuk meneliti respons tersebut, para peneliti melibatkan 114 orang dewasa dengan nyeri punggung bawah kronis. Kondisi ini didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung setidaknya selama tiga bulan dan merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di dunia.

Peneliti menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengamati aktivitas otak peserta. Teknologi ini mengukur perubahan aliran darah sebagai indikator tidak langsung aktivitas di berbagai wilayah otak.

Setelah pemindaian awal, peneliti membantu mengangkat kaki setiap peserta hingga rasa sakit pada pinggang meningkat. Posisi tersebut dipertahankan selama 10 detik sebelum kaki diturunkan, kemudian aktivitas otak dipindai kembali untuk dibandingkan dengan hasil sebelumnya.

Rata-rata, prosedur ini meningkatkan intensitas nyeri yang dilaporkan peserta sebesar 23 persen.

Sesuai perkiraan, gerakan yang memicu nyeri meningkatkan aktivitas di wilayah otak yang terlibat dalam pemrosesan rasa sakit dan gerakan. Namun, para peneliti juga menemukan peningkatan aktivitas pada bagian penting default mode network, hasil yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

“Kami sama sekali tidak menyangka jaringan ini akan terlibat,” kata Fadel Zeidan, ahli saraf dari University of California, San Diego (UC San Diego), seperti dikutip Live Science.

Default mode network merupakan jaringan sejumlah wilayah otak yang cenderung aktif ketika seseorang melakukan refleksi diri, mengingat pengalaman pribadi, atau membiarkan pikirannya mengembara tanpa berfokus pada tugas tertentu.

Pada penelitian tentang nyeri akut, aktivitas jaringan ini biasanya justru menurun. Nyeri sesaat diduga mengalihkan perhatian seseorang dari pikiran internal menuju rangsangan yang datang dari luar.

Untuk membandingkan kedua kondisi tersebut, peneliti juga memberikan rangsangan panas yang menyakitkan pada betis peserta, sebuah metode yang umum digunakan dalam penelitian nyeri akut.

Hasilnya berbeda dari nyeri punggung yang dipicu gerakan. Rangsangan panas berkaitan dengan penurunan aktivitas pada sebagian jaringan default mode network, sedangkan lonjakan nyeri punggung kronis setelah gerakan berkaitan dengan peningkatan aktivitas jaringan tersebut.

Perbedaan ini mengindikasikan bahwa nyeri kronis yang kambuh akibat gerakan mungkin melibatkan mekanisme pemrosesan otak yang tidak sama dengan nyeri akut. Meski demikian, temuan tersebut belum menjelaskan secara pasti mengapa perbedaan itu terjadi.

Peneliti juga menemukan bahwa peserta yang melaporkan nyeri punggung kronis lebih berat memiliki konektivitas yang lebih kuat antara default mode network dan wilayah otak yang memproses sensasi dari punggung.

Konektivitas ini menunjukkan adanya hubungan antara jaringan yang berkaitan dengan pengalaman internal seseorang dan wilayah otak yang memproses sensasi tubuh. Para peneliti menilai temuan tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana nyeri yang berlangsung lama berhubungan dengan cara seseorang mengalami dan mempersepsikan tubuhnya.

“Rasa sakit yang kambuh ini seolah-olah telah menjadi bagian dari diri mereka dari sudut pandang yang berpusat pada diri sendiri,” ujar Zeidan.

Namun, hasil tersebut tidak berarti nyeri kronis hanya berasal dari pikiran atau bahwa rasa sakit yang dialami penderita tidak nyata. Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman nyeri melibatkan aktivitas otak yang kompleks, termasuk jaringan yang berkaitan dengan pemrosesan pengalaman internal.

Penelitian tersebut juga belum dapat memastikan apakah perubahan aktivitas otak ikut menyebabkan nyeri kronis atau justru berkembang sebagai respons terhadap rasa sakit yang berlangsung lama.

Katherine Martucci, ahli saraf dari Duke University yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai rancangan eksperimen tersebut memberikan bukti penting mengenai respons otak saat nyeri kronis kambuh. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa aktivitas otak yang teramati juga mungkin dipengaruhi oleh rasa sakit yang masih tersisa atau kecemasan setelah gerakan pemicu nyeri dilakukan.

Temuan ini berpotensi membantu pengembangan pendekatan penanganan nyeri kronis di masa depan. Jika penelitian lanjutan mengonfirmasi peran default mode network, terapi mungkin dapat dikembangkan tidak hanya untuk mengurangi sensasi nyeri, tetapi juga membantu pasien mengelola hubungan mereka dengan pengalaman nyeri tersebut.

Tim Zeidan kini meneliti apakah pendekatan seperti meditasi kesadaran penuh (mindfulness) dan terapi perilaku kognitif dapat memengaruhi jaringan otak tersebut serta membantu meredakan nyeri kronis.

Terapi perilaku kognitif untuk nyeri kronis (cognitive behavioral therapy for chronic pain atau CBT-CP) sendiri telah menjadi salah satu pilihan penanganan yang digunakan untuk kondisi tersebut. Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa meditasi atau terapi tersebut dapat meredakan nyeri melalui perubahan aktivitas default mode network yang ditemukan.

Martucci menegaskan bahwa hasil penelitian masih terlalu dini untuk langsung diterapkan sebagai dasar perubahan praktik klinis. Meski begitu, data pencitraan otak tersebut memberikan bukti mengenai bagaimana otak merespons gerakan yang memicu nyeri pada penderita nyeri punggung bawah kronis.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami apakah perubahan jaringan otak itu dapat dimanfaatkan dalam terapi. Untuk saat ini, temuan tersebut memperluas pemahaman ilmiah tentang nyeri kronis dan menunjukkan bahwa pengalaman sakit yang berkepanjangan dapat melibatkan proses otak yang lebih luas daripada pemrosesan sensasi fisik semata. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Nyeri Pinggang Aktivitas DMN Jaringan Otak Nyeri Panggung Bawah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :