Kamis, 15/10/2026 11:16 WIB

Mentrans Sambut Baik Usulan Tiongkok Kolaborasi Pusat Riset Padi di Merauke





Saya setuju dengan semua usulan tersebut, tinggal kita konkretkan. Saya sangat setuju membuka litbang bersama

Presiden Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) sekaligus anggota kelompok pimpinan Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok (MARA), Huang Sanwen, saat bertemu Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Beijing, Senin (Foto: Ist/Kementrans)

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Indonesia dan Tiongkok menjajaki kerja sama pengembangan pusat penelitian dan pengembangan (litbang) padi di Merauke, Papua Selatan. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pengembangan teknologi budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan setempat.

Tawaran tersebut disampaikan Presiden Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) sekaligus anggota kelompok pimpinan Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok (MARA), Huang Sanwen, saat bertemu Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Beijing, Senin (12/10).

Huang mengusulkan penguatan penelitian bersama, termasuk pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan hasil panen padi di Merauke. Iftitah menyambut positif tawaran tersebut dan mendorong agar pembahasan segera berlanjut ke tahap teknis.

“Saya setuju dengan semua usulan tersebut, tinggal kita konkretkan. Saya sangat setuju membuka litbang bersama,” ujar Mentrans Iftitah dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis (15/10).

Menurutnya, kerja sama penelitian pertanian sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia, khususnya dalam mengembangkan kawasan transmigrasi menjadi pusat produksi pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Iftitah menekankan pengembangan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan. Produktivitas harus didukung oleh benih unggul, teknologi budidaya, pengelolaan air, keterampilan petani, serta kepastian pasar. Karena itu, ia juga menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari pengembangan padi hibrida dan berbagai inovasi pertanian Tiongkok yang berpotensi diterapkan sesuai kondisi agroekologi Indonesia.

Kerja sama tersebut berpeluang melibatkan Kementerian Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta lembaga penelitian pertanian Tiongkok. Pembahasan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan fokus penelitian, lokasi pelaksanaan, kelembagaan, kebutuhan pembiayaan, dan tahapan kerja sama.

Iftitah menjelaskan transformasi transmigrasi yang dijalankan pemerintah Indonesia tidak lagi hanya berorientasi pada perpindahan penduduk dan penyediaan lahan. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, transmigrasi diarahkan menjadi instrumen pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama melalui peningkatan produktivitas, industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Transmigrasi hari ini bukan hanya tentang perpindahan penduduk, tetapi bagaimana kita menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan pekerjaan, dan mengentaskan kemiskinan,” kata Iftitah.

Menurutnya, kawasan transmigrasi memiliki dua modal penting, yaitu ketersediaan lahan dan sumber daya manusia. Namun, keduanya harus didukung ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dan akses pasar.

“Kita memiliki lahan dan tenaga kerja. Yang kita butuhkan adalah penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi, serta offtaker yang dapat menyerap hasil produksi masyarakat,” jelasnya.

Dalam konteks Merauke, pengembangan pusat riset diharapkan tidak berhenti pada peningkatan hasil panen, tetapi juga membantu petani menerapkan teknologi yang sesuai, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta memperkuat keterhubungan antara produksi pangan dan industri pengolahan.

Dengan demikian, manfaat penelitian dapat diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, terbukanya kesempatan kerja, dan pendapatan masyarakat yang lebih baik.

Selain pengembangan pusat riset padi, Huang Sanwen juga menawarkan peluang kerja sama dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian dan pengolahan pangan, penerapan ilmu pengetahuan dalam pengentasan kemiskinan, serta pembangunan ekonomi pedesaan.

Di bidang sumber daya manusia, pihak Tiongkok membuka peluang pendidikan pascasarjana bagi peneliti Indonesia, pertukaran pengetahuan antarlembaga penelitian, serta penyelenggaraan pelatihan jangka pendek.

Iftitah menyambut baik peluang tersebut karena peningkatan kapasitas manusia merupakan bagian penting dari transformasi transmigrasi. Menurutnya, teknologi hanya akan memberikan manfaat optimal apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya.

Karena itu, kolaborasi riset perlu dihubungkan dengan pendidikan, pelatihan, dan pendampingan langsung kepada petani serta masyarakat kawasan transmigrasi.

Dalam pertemuan tersebut, Iftitah juga menyampaikan potensi berbagai komoditas unggulan Indonesia yang dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan Tiongkok, antara lain kelapa, durian, kopi, dan kakao. Menurutnya, peningkatan produksi harus berjalan bersama pengembangan industri pengolahan dan akses pasar agar nilai tambah tidak hanya dinikmati di luar daerah penghasil.

Kementerian Transmigrasi juga menjajaki kemitraan dengan pelaku usaha Tiongkok yang berpotensi menjadi pembeli hasil produksi maupun mitra investasi industri pengolahan di Indonesia.

Iftitah berharap kerja sama pemerintah, lembaga riset, dan dunia usaha dapat saling melengkapi. Penelitian membantu meningkatkan produktivitas, industri menciptakan nilai tambah, sedangkan akses pasar memberikan kepastian bagi kegiatan ekonomi masyarakat.

Ia juga menyampaikan pengalamannya mengunjungi Hubei, Tiongkok, dan mempelajari bagaimana pengembangan ekonomi, teknologi, serta peningkatan produktivitas dapat mendukung pengurangan kemiskinan. Menurutnya, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dengan tetap menyesuaikan pendekatannya terhadap kondisi geografis, sosial, dan ekonomi masing-masing wilayah.

Penjajakan pusat penelitian pertanian bersama di Merauke sebelumnya telah dibahas antara Kementerian Transmigrasi dan pihak Tiongkok, termasuk untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi Salor. Pertemuan dengan MARA dan CAAS di Beijing menjadi kesempatan untuk memperdalam pembahasan tersebut, khususnya mengenai pengembangan teknologi padi dan peningkatan kapasitas penelitian.

Kementerian Transmigrasi berharap tawaran kerja sama dapat segera ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis antarlembaga terkait, sehingga menghasilkan rencana pelaksanaan yang jelas dan sesuai kebutuhan kawasan. Bagi Iftitah, tujuan akhirnya bukan sekadar membangun fasilitas penelitian, melainkan memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Peningkatan hasil pertanian, berkembangnya industri pengolahan, terbukanya lapangan kerja, serta meningkatnya pendapatan petani menjadi sasaran yang ingin didorong melalui kolaborasi tersebut.

KEYWORD :

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara Pusat Riset Padi Huang Sanwen




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :