Ilustrasi kurs mata uang Iran (Foto: Arab News)
Teheran, Jurnas.com - Mata uang Iran, rial, kembali mengalami kemerosotan hingga menyentuh rekor terendah baru akibat dampak perang yang kian menggerus stabilitas ekonomi negara tersebut.
Dikutip dari Arab News pada Rabu (30/9), para pedagang di Teheran menukarkan lebih dari 2,5 juta rial untuk satu dolar AS. Anjloknya nilai mata uang ini terjadi hanya dalam kurun 27 hari.
Sebelumnya kurs Iran memecahkan rekor terendah sebelumnya sebesar 2,2 juta rial per dolar pada 2 September lalu, setelah mengalami pelemahan beruntun sejak konflik militer meletus pada Februari.
Perekonomian Iran yang telah tertekan sanksi internasional selama bertahun-tahun kini berada dalam kondisi terpuruk menyusul blokade laut AS terhadap ekspor minyak serta sanksi-sanksi baru pasca-eskalasi perang.
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengisyaratkan adanya pergerakan diplomasi tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui perantara Qatar guna membahas pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pembahasan ini bergulir meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Teheran terkait pembukaan selat dengan syarat pencabutan sanksi minyak dan pembekuan aset. Araghchi menyampaikan bahwa Qatar selaku perantara akan kembali berkomunikasi dengan Washington.
"Mereka dijadwalkan untuk mengangkat masalah ini dengan pihak Amerika sekali lagi, setelah itu tanggapan akhir AS akan disampaikan kepada kami," ujar Araghchi.
"Jika ada tanggapan, pihak Qatar akan menyampaikannya kepada kami dan keputusan akan dibuat di Teheran berdasarkan hal tersebut," dia menambahkan.
Di sisi lain, AS terus memperketat tekanan ekonomi dengan meluncurkan `Operation Economic Outcast`, dan menjatuhkan sanksi baru terhadap 10 individu serta entitas di Iran, Hong Kong, dan Pakistan yang dituduh menyokong rantai pasok militer Iran.
"Departemen Keuangan tidak akan mentolerir dukungan apa pun kepada rezim dan akan terus mengidentifikasi, mengungkap, serta mengisolasi pihak-pihak yang memfasilitasi Iran," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyampaikan seruan terbuka kepada publik Amerika Serikat, agar mendesak pemerintahnya menghentikan perang. Juru bicara IRGC Jenderal Hossein Mohebbi menilai Washington harus mengakui kegagalan militer dan ekonominya di kawasan. "Beginilah cara perang ini akan berakhir," kata Mohebbi.
Namun, AS meyakini bahwa perekonomian Iran tidak akan bertahan lama dalam kondisi konflik saat ini. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa sanksi dan pemblokiran pendapatan minyak bertujuan mencegah Teheran mendanai kegiatan militer dan program nuklirnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mata Uang Iran Nilai Tukar Rial Krisis Ekonomi Iran





















