Rabu, 30/09/2026 13:55 WIB

Bicara di UNSW, Menkomdigi: AI Wajib Melayani dan Melindungi Manusia





Hal ini membuka peluang untuk bertukar gagasan dan mengembangkan teknologi yang melayani serta melindungi manusia, bukan justru menjadi gangguan bagi kemanusiaa

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menjadi pembicara kunci dalam UNSW Indonesia Alumni Reception bertema Human Connection in a Digital World di Jakarta Selatan, Selasa (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi lulusan perguruan tinggi luar negeri memperkuat kontribusi bagi pembangunan bangsa, di antaranya dengan menciptakan inovasi teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) agar berpusat pada manusia.

Pesan tersebut disampaikan Meutya saat menjadi pembicara kunci dalam UNSW Indonesia Alumni Reception bertema “Human Connection in a Digital World” di Jakarta Selatan, Selasa (29/09/2026).

Dalam kesempatan itu, Menkomdigi Meutya menegaskan bahwa pengembangan teknologi tidak boleh berhenti pada penciptaan inovasi semata, tetapi harus dipastikan manfaatnya dirasakan manusia dan risikonya dapat dikendalikan

“Menurut saya, kata kuncinya adalah bertanggung jawab. Bukan sekadar mendorong inovasi, kita percaya dan saya kira Australia juga memiliki semangat yang sama bahwa setiap inovasi harus dikembangkan secara bertanggung jawab,” ujar Meutya dalam keterangan resmi.

Menurut Menkomdigi Meutya, keahlian UNSW dalam AI, ilmu data, dan keamanan siber relevan dengan kebutuhan Indonesia di tengah percepatan transformasi digital.

Ia menilai Alumni memiliki posisi strategis untuk menjembatani pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan kebutuhan pembangunan agar perkembangan teknologi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Hal ini membuka peluang untuk bertukar gagasan dan mengembangkan teknologi yang melayani serta melindungi manusia, bukan justru menjadi gangguan bagi kemanusiaan,” kata Menkomdigi Meutya.

Selain teknologi digital, Meutya melihat peluang kontribusi alumni dalam pengembangan energi berkelanjutan, pendidikan, dan kesehatan.

Di bidang energi, misalnya, keahlian dalam energi terbarukan dan sistem energi dapat memperkuat hubungan antara riset dan kebutuhan transisi energi Indonesia.

Sementara itu, di sektor pendidikan, alumni dapat mengambil peran melalui program mentoring, pelatihan, serta penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan industri untuk menyiapkan talenta sesuai kebutuhan dunia kerja.

Meutya berharap pembentukan kembali UNSW Indonesia Alumni Chapter menjadi langkah konkret untuk memperluas kontribusi tersebut.

Menurut dia, jejaring alumni tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi perlu berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan, kolaborasi lintas bidang, dan perumusan solusi bagi persoalan Indonesia.

Kontribusi itu juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Pada akhirnya, kita berharap alumni chapter ini tidak hanya menjadi wadah bagi kita untuk bertemu, tetapi juga menjadi ruang untuk berdiskusi dan memberikan kontribusi pemikiran. Saya yakin kita semua ingin memberikan kontribusi yang lebih besar,” ujar Meutya.

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti hubungan Indonesia dan Australia yang terus berkembang di tengah dinamika kawasan dan global.

Ia menyinggung pengalamannya selama 15 tahun sebagai anggota parlemen, termasuk keterlibatannya dalam komite yang membidangi urusan luar negeri.

Menurut dia, hubungan kedua negara tetap terjaga dan memiliki ruang untuk terus diperkuat melalui kerja sama di berbagai bidang. Australia menjadi salah satu negara pertama yang dikunjungi Presiden Prabowo Subianto sebelum pelantikan pada Oktober 2024.

Meutya turut mendampingi kunjungan tersebut pada Agustus 2024. Ia juga menyebut komunikasi dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese terus berlangsung, termasuk pertemuan dalam rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa hari sebelum acara alumni itu.

Meutya menilai hubungan kedua negara dapat menjadi landasan untuk memperluas kerja sama, termasuk dalam pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ia turut mengenang perjalanan pendidikannya di UNSW.

Ia mengikuti program foundation studies pada 1996, melanjutkan studi di bidang manufacturing engineering, dan lulus sebagai insinyur pada 2000. Setelah kembali ke Indonesia, ia mengawali karier sebagai jurnalis sebelum terjun ke politik dan menjalani 15 tahun sebagai anggota parlemen.

Kini, ia memasuki tahun kedua sebagai Menteri Komunikasi dan Digital. Menurut Meutya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan jejaring internasional dapat menjadi bekal untuk mengambil peran lebih besar bagi masyarakat dan negara.

“Bukan hanya untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk komunitas kita di sini, dan bukan hanya untuk alumni chapter ini, tetapi juga untuk bangsa Indonesia,” kata Meutya.

KEYWORD :

Menteri Komdigi Meutya Hafid Artificial Intelligence AI Melindungi Manusia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :