Peta Penyimpanan air daratan (terrestrial water storage) mencakup seluruh air tawar yang tersimpan di dalam dan di bawah daratan, termasuk air tanah, tanah, sungai, waduk, salju, dan es (Foto: WMO via Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Cadangan air di daratan Bumi terus menyusut, sementara siklus air semakin tidak seimbang. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menemukan perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kejadian kekeringan dan banjir ekstrem di berbagai wilayah.
Laporan tahunan WMO tentang kondisi sumber daya air global menunjukkan bahwa volume total air yang tersimpan di daratan terus menurun. Perubahan itu terlihat dari aliran sungai, cadangan air tanah, hingga massa gletser yang terus berkurang.
"Total volume air yang tersimpan di benua-benua terus menurun," kata Robert Reinecke dari Johannes Gutenberg University Mainz (JGU), yang turut menyusun laporan tahunan tersebut sejak pertama kali diterbitkan pada 2022.
Penurunan cadangan air terlihat jelas pada sistem sungai dunia. Sejak 2021, total volume air sungai secara global terus berada di bawah kondisi pada periode pembanding 1991-2020.
Pada 2025, aliran sungai di 36 persen wilayah cekungan dunia tercatat lebih rendah dibandingkan periode pembanding tersebut. Tahun yang sama juga termasuk salah satu periode dengan kondisi sungai paling kering dalam 35 tahun terakhir.
Kondisi tersebut bukan sekadar kekeringan dalam satu tahun. Menurut WMO, selama tujuh tahun berturut-turut, jumlah cekungan sungai dengan aliran yang tergolong normal berada di bawah proporsi biasanya.
Aliran normal hanya mencakup sekitar 34-38 persen cekungan sungai dunia, sedangkan rata-rata jangka panjangnya mencapai 46 persen.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan siklus air kini menjadi semakin tidak menentu. Kondisinya bergerak antara kekurangan air dan kelebihan air, sementara masyarakat yang terdampak sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk pulih sebelum bencana berikutnya terjadi.
Persoalan tidak berhenti di permukaan. Cadangan air tanah juga menunjukkan penurunan di sebagian besar lokasi pemantauan.
Pada 2025, permukaan air tanah berada di bawah periode referensi historis di 65 persen stasiun pemantauan yang tercakup dalam laporan.
Saulo menggambarkan air tanah, gletser, dan lapisan salju musiman sebagai semacam tabungan air Bumi. Cadangan yang bergerak lebih lambat tersebut selama ini berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi kekeringan sehingga dampaknya tidak langsung berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Namun, cadangan tersebut kini terus terkuras. Penyimpanan air di daratan secara global telah menunjukkan tren penurunan yang berlangsung sejak sekitar 2014-2016. Gletser juga menghadapi tekanan yang sama. Pada 2025, gletser dunia kehilangan sekitar 400 gigaton massa.
Kondisi tersebut menjadi tahun keempat berturut-turut ketika seluruh kawasan utama yang memiliki gletser mengalami kehilangan massa secara bersih.
Sejak 2023, jumlah air yang hilang dari gletser secara kumulatif mencapai sekitar 1.400 gigaton. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 560 juta kolam renang berukuran Olimpiade.
Di sejumlah wilayah dengan gletser berukuran lebih kecil, termasuk kawasan Kaukasus serta sebagian Kanada bagian barat dan Amerika Serikat, para ilmuwan memperkirakan gletser mungkin telah melewati fase peak water. Istilah tersebut merujuk pada titik ketika limpasan air dari pencairan gletser mencapai puncaknya sebelum kemudian memasuki penurunan jangka panjang.
Ketidakseimbangan siklus air tidak hanya berarti kekurangan air. Di sejumlah wilayah, curah hujan ekstrem justru memicu banjir dengan dampak besar.
Afrika mengalami sejumlah banjir mematikan pada 2025 akibat hujan yang sangat deras. Nigeria dan Republik Demokratik Kongo mengalami banjir besar masing-masing selama dua dan tiga tahun berturut-turut.
Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, kombinasi siklon tropis dan musim monsun yang intens berkontribusi terhadap kematian hingga 3.600 orang di negara-negara terdampak.
Dampaknya juga terasa secara ekonomi. Jamaika memperkirakan kerugian akibat Badai Melissa mencapai setara 41 persen produk domestik bruto (PDB), sementara Sri Lanka memperkirakan kerugian akibat Siklon Ditwah sekitar 4 persen dari PDB.
Dalam lima tahun terakhir, Asia dan Afrika menyumbang sedikitnya setengah dari seluruh kejadian ekstrem terkait air yang tercatat dan lebih dari 80 persen kematian yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Kondisi itu terjadi meski kedua kawasan tersebut masih termasuk wilayah dengan keterwakilan data pemantauan hidrologi yang relatif terbatas.
Menurut Reinecke, terdapat dua faktor yang saling berkaitan dalam perubahan siklus air tersebut, yakni perubahan iklim dan penggunaan air tanah oleh manusia.
"Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak air; gletser mencair, dan pada saat yang sama penguapan meningkat," ujar Reinecke.
"Dan manusia memindahkan air tanah dalam jumlah yang sangat besar ke laut dan atmosfer, misalnya dengan menggunakannya untuk irigasi," lanjutnya.
Air tersebut tidak benar-benar menghilang dari Bumi. Perubahannya lebih berupa perpindahan ke bagian lain dari siklus air, seperti atmosfer dan lautan, sehingga semakin sulit diakses atau dimanfaatkan oleh manusia maupun ekosistem yang bergantung padanya.
Karena air bergerak melintasi batas wilayah, perubahan di satu kawasan juga dapat berdampak pada wilayah lain. Keseimbangan sebuah daerah aliran sungai, misalnya, dapat dipengaruhi kondisi di negara tetangga, sementara pencairan gletser dapat mengubah ketersediaan air bagi masyarakat yang tinggal ratusan kilometer di bagian hilir.
Laporan WMO tahun ini disebut sebagai edisi yang paling komprehensif dibandingkan laporan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, laporan tersebut juga memasukkan analisis mengenai suhu air.
Hasilnya menunjukkan bahwa 2025 ditandai dengan suhu air yang secara signifikan lebih tinggi. Perubahan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan bagi ekosistem perairan dan kualitas air secara lebih luas.
Reinecke bersama kelompok peneliti dari JGU, Goethe University Frankfurt am Main, serta Global Runoff Database Center di Koblenz turut berkontribusi terhadap model dan data yang digunakan dalam laporan.
Tim dari Mainz juga membantu mengembangkan metode untuk menganalisis data air tanah serta menyempurnakan salah satu model air global yang digunakan dalam laporan WMO.
Para peneliti kini terus mengembangkan model yang secara khusus mensimulasikan dinamika air tanah untuk memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi sumber daya air dunia.
Temuan WMO menunjukkan bahwa persoalan air global bukan hanya tentang kekurangan air. Siklus air yang semakin tidak seimbang membuat dunia menghadapi dua kondisi sekaligus. Satu sisi cadangan air yang menyusut dalam jangka panjang dan sisi lainnya ancaman banjir ekstrem yang semakin nyata di sejumlah wilayah. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
World Meteorological Organization Cadangan Air Bumi Air Tanah






















