Selasa, 09/06/2026 17:29 WIB

WMO Keluarkan Peringatan, El Nino Terkuat Diprediksi Terjadi Tahun Ini





Jika proyeksi tersebut terwujud, kekuatan El Nino tahun ini akan melampaui dua peristiwa terbesar sebelumnya yang terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016

Dampak fenomena El Nino (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena El Nino yang sedang berkembang diperkirakan akan menjadi yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai.

Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan pembaruan prakiraan terbaru dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF).

Lembaga tersebut memperkirakan suhu permukaan laut di wilayah kunci Samudra Pasifik ekuator tengah akan mencapai sekitar 3 derajat Celsius di atas rata-rata pada Desember mendatang.

Dikutip dari Live Science, dalam sejumlah skenario, anomali suhu bahkan berpotensi melampaui 4 derajat Celsius.

Jika proyeksi tersebut terwujud, kekuatan El Nino tahun ini akan melampaui dua peristiwa terbesar sebelumnya yang terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016.

Pada dua periode tersebut, suhu di wilayah pemantauan Niño 3.4 tercatat sekitar 2,3 derajat Celsius di atas rata-rata.

Meteorolog sekaligus penulis cuaca global dari Washington Post, Ben Noll, mengatakan hampir seluruh skenario prakiraan terbaru menunjukkan anomali suhu melebihi 3 derajat Celsius.

Menurutnya, sejumlah model bahkan menunjukkan kenaikan lebih dari 4 derajat Celsius yang berpotensi menjadikannya El Nino terkuat yang pernah tercatat.

El Nino merupakan fase hangat dari siklus iklim alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun.

Fenomena tersebut ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi itu dapat mengubah pola angin pasat serta memengaruhi curah hujan dan suhu di berbagai belahan dunia.

El Nino terakhir berlangsung sejak Juni 2023 hingga April 2024. Fenomena tersebut turut berkontribusi menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern.

Dampak El Nino sebelumnya juga tercatat luas. Berbagai penelitian mengaitkannya dengan kekeringan, banjir, gagal panen, kebakaran hutan, hingga krisis pangan di sejumlah kawasan dunia.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen sebelum September dan meningkat menjadi 90 persen sebelum November.

Karena itu, berbagai negara diminta mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan terjadinya fenomena iklim ekstrem tersebut.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, mengatakan dunia harus memperlakukan El Nino sebagai peringatan iklim yang serius. Menurutnya, fenomena tersebut akan memperparah dampak pemanasan global yang sudah terjadi saat ini.

"El Nino akan menambah panas pada dunia yang sudah menghangat. Dampaknya akan terasa lebih kuat, menjangkau lebih jauh, dan menyebar lintas batas dengan cepat," kata Guterres.

Dia menegaskan bahwa satu-satunya respons efektif adalah mempercepat aksi iklim global.

Langkah tersebut mencakup pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, percepatan penggunaan energi terbarukan, perlindungan kelompok rentan, serta penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana iklim. (*)

KEYWORD :

World Meteorological Organization El Nino Cuaca Ekstrem Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :