Selasa, 22/09/2026 03:44 WIB

Asap Kebakaran Hutan Lebih Berisiko bagi Jantung dan Paru-paru





Ilustrasi asap kebakaran hutan (File: Abdelaziz Boumzar/Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Asap kebakaran hutan dan polusi dari kendaraan atau aktivitas industri dapat terlihat sama pada peta kualitas udara karena sama-sama diukur berdasarkan jumlah partikel di udara.

Namun, sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sumber partikel tersebut dapat membuat perbedaan besar terhadap risiko kesehatan.

Penelitian yang melibatkan 20 negara bagian di AS menemukan bahwa pada jumlah paparan yang sama, partikel dari asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap yang lebih besar dibandingkan partikel yang berasal dari lalu lintas, industri, dan aktivitas pertanian.

Penelitian tersebut dipimpin Min Zhang dan Yaguang Wei dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai. Para peneliti menganalisis lebih dari 57 juta catatan rawat inap akibat penyakit jantung dan pembuluh darah serta hampir 33 juta rawat inap akibat penyakit paru-paru.

Untuk mengestimasi paparan polusi, peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dan Stony Brook University menghubungkan perkiraan konsentrasi polusi dengan kode ZIP tempat tinggal pasien.

Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan 1 mikrogram partikel asap kebakaran hutan per meter kubik udara, yang dirata-ratakan selama dua tahun, berkaitan dengan kenaikan rawat inap akibat asma sebesar 16 persen.

Rawat inap akibat pneumonia meningkat sekitar 11 persen, sedangkan penyakit serebrovaskular yang mencakup stroke naik sekitar 13 persen. Untuk gagal jantung, peningkatannya sekitar 10 persen.

Sebagai pembanding, peningkatan 1 mikrogram partikel dari lalu lintas, industri, dan pertanian berkaitan dengan kenaikan risiko yang lebih kecil, berkisar antara 4,7 persen untuk penyakit paru-paru kronis hingga 8,5 persen untuk tekanan darah tinggi.

Menurut Wei, perbedaan tersebut berkaitan dengan karakteristik partikel asap kebakaran hutan.

“Partikel asap kebakaran hutan berukuran lebih kecil, sehingga lebih mudah masuk ke dalam tubuh,” kata Wei kepada Earth.com.

Ia menjelaskan partikel tersebut juga mengandung lebih banyak komponen karbon dan logam, termasuk timbal, karena kebakaran dapat membakar pohon, rerumputan, hingga bangunan dan properti. Menurut Wei, kandungan tersebut lebih beracun dan sebagian di antaranya bersifat karsinogenik.

Meski risiko per mikrogram asap kebakaran hutan lebih tinggi, temuan tersebut tidak berarti asap kebakaran hutan merupakan sumber paparan terbesar yang dialami masyarakat.

Di 20 negara bagian yang diteliti, rata-rata konsentrasi partikel dari asap kebakaran hutan di tingkat kode ZIP mencapai 0,29 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, rata-rata konsentrasi partikel dari sumber lain mencapai 7,78 mikrogram per meter kubik.

Artinya, masyarakat secara umum terpapar polusi dari sumber sehari-hari dalam jumlah yang jauh lebih besar. Ketika variasi paparan diperhitungkan, risiko yang berkaitan dengan polusi dari sumber lain diperkirakan sekitar tiga kali lebih besar karena konsentrasinya berubah sekitar enam kali lebih banyak dibandingkan paparan asap kebakaran hutan.

Meski demikian, para peneliti menyoroti perkembangan asap kebakaran hutan sebagai perhatian yang semakin penting. Mereka mengutip proyeksi bahwa konsentrasi partikel dari kebakaran hutan dapat mencapai 10 mikrogram per meter kubik di sejumlah wilayah dalam skenario iklim masa depan.

Temuan mengenai dampak asap kebakaran hutan juga muncul dalam penelitian pendamping yang diterbitkan dua hari sebelumnya di The Lancet Oncology.

Penelitian tersebut mengikuti 414.016 orang berusia 65 tahun ke atas yang telah didiagnosis menderita kanker paru-paru. Data pasien berasal dari catatan registrasi kanker yang dihubungkan dengan data Medicare melalui program SEER.

Penelitian itu tidak mengukur risiko rawat inap, melainkan tingkat kelangsungan hidup pasien.

Setiap tambahan 1 mikrogram partikel asap kebakaran hutan per meter kubik dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 7,8 persen. Untuk partikel dari sumber polusi sehari-hari, peningkatannya sebesar 1,7 persen.

Dalam kelompok yang diteliti, paparan asap kebakaran hutan dikaitkan dengan sekitar 700 kematian per tahun, sedangkan paparan partikel dari sumber lain dikaitkan dengan sekitar 3.470 kematian.

Christine Ekenga dari Rollins School of Public Health di Emory University, yang menjadi salah satu penulis penelitian tersebut, mengatakan pasien kanker paru-paru sudah menghadapi tantangan kesehatan yang besar.

Menurut dia, temuan penelitian menunjukkan paparan jangka panjang terhadap asap kebakaran hutan dapat menambah risiko yang berpotensi dicegah.

Penelitian juga menemukan bahwa hubungan antara paparan partikel dan rawat inap lebih kuat pada pasien Hispanik serta kelompok ras dan etnis minoritas lainnya.

Pola serupa ditemukan di wilayah metropolitan, komunitas dengan tingkat pendidikan lebih rendah, serta kawasan dengan tingkat deprivasi yang lebih tinggi.

Para peneliti mengaitkan pola tersebut dengan sejumlah faktor, termasuk ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan, beban polusi yang lebih besar, serta keterbatasan sumber daya untuk melindungi rumah tangga dari kualitas udara buruk.

Orang yang sebelumnya hidup dengan obesitas atau diabetes juga menunjukkan risiko lebih tinggi untuk sebagian besar kondisi yang diteliti.

Dampak asap kebakaran hutan juga tidak terbatas pada wilayah yang berada dekat dengan sumber kebakaran.

Menurut Wei, jarak penyebaran asap bergantung pada kondisi angin dan cuaca. Dalam kondisi tertentu, asap dapat terbawa hingga ribuan mil dari lokasi kebakaran.

Temuan tersebut membuat peneliti mendorong agar sumber polusi turut diperhitungkan dalam kebijakan kesehatan dan lingkungan, bukan hanya jumlah partikelnya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa PM2.5 yang berkaitan dengan kebakaran hutan tampaknya lebih berbahaya dibandingkan tingkat polusi yang setara dari sumber lain,” kata Wei.

Menurut dia, meningkatnya aktivitas kebakaran hutan membuat kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan perlu mempertimbangkan jumlah sekaligus sumber polusi udara.

Para peneliti mengingatkan bahwa kedua penelitian tersebut tidak mengukur secara langsung jumlah polusi yang benar-benar dihirup setiap individu.

Paparan diperkirakan berdasarkan kode ZIP tempat tinggal menggunakan model asap dengan resolusi sekitar 6 mil atau 10 kilometer. Dengan metode tersebut, dua orang yang tinggal dalam satu kode ZIP dapat memperoleh perkiraan paparan yang sama meskipun aktivitas mereka berbeda, misalnya seseorang lebih banyak berada di dalam ruangan dan orang lain lebih sering berada di luar.

Data rawat inap dalam penelitian juga hanya mencakup 20 negara bagian dan berhenti pada 2019. Periode tersebut belum mencakup tahun-tahun kebakaran yang lebih ekstrem setelahnya.

Dalam penelitian kanker paru-paru, peneliti juga tidak dapat memperhitungkan riwayat merokok pasien.

Selain itu, penelitian belum dapat menentukan komponen spesifik asap kebakaran yang paling bertanggung jawab atas dampak kesehatan tersebut. Asap dari kebakaran hutan dan asap dari kebakaran kawasan permukiman juga dapat memiliki komposisi berbeda karena material yang terbakar tidak sama.

Peneliti selanjutnya akan menelusuri komponen asap yang paling berbahaya serta bagaimana zat tersebut masuk dan memengaruhi tubuh.

Wei menyarankan masyarakat memantau kualitas udara setempat dan memperhatikan ketika terjadi episode asap kebakaran.

Pada hari ketika asap memburuk, masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam ruangan dengan sistem ventilasi yang mampu menyaring dan mensirkulasikan udara. Jika tidak tersedia, penggunaan pembersih udara portabel dengan filter HEPA dan karbon aktif dapat membantu menyaring partikel serta sebagian gas beracun.

“Seiring kebakaran hutan menjadi lebih sering dan intens, hal ini benar-benar membutuhkan perhatian kita,” ujar Wei.

Studi utama mengenai hubungan asap kebakaran hutan dengan rawat inap tersebut diterbitkan dalam jurnal Nature Communications. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Asap Kebakaran Dampak Karhutla Kebakaran Hutan dan Lahan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :