Seorang anak laki-laki mendinginkan diri di air mancur (FOTO: AP PHOTO)
Jakarta, Jurnas.com - Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks saat menghadapi kondisi ekstrem, termasuk ketika pasokan air dan makanan terhenti secara mendadak.
Dalam dunia medis, terdapat pedoman umum yang sering dijadikan patokan dasar yakni aturan tiga. Pedoman ini menyebutkan bahwa manusia rata-rata mampu bertahan tiga menit tanpa oksigen, tiga hari tanpa air, dan tiga minggu tanpa makanan.
Angka tersebut tentu bukan hitungan mutlak, karena batas daya tahan individu sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan komposisi tubuh.
Ini Efek Minum Air Putih Saat Anda Kehausan
Kebutuhan akan hidrasi jauh lebih mendesak dibandingkan asupan makanan. Cairan menyumbang sekitar 60 persen dari total berat badan manusia dewasa dan berperan krusial dalam mengatur suhu tubuh, membuang limbah, serta melancarkan sirkulasi darah.
Tubuh terus-menerus kehilangan air melalui proses pernapasan, keringat, dan pembuangan urine. Tanpa asupan cairan pengganti, ginjal akan kesulitan menyaring darah dan volume darah akan merosot tajam.
Dalam kondisi normal tanpa aktivitas berat dan berada di lingkungan teduh, manusia maksimal hanya mampu bertahan antara tiga hingga maksimal tujuh hari tanpa air.
Apabila seseorang terjebak di cuaca panas ekstrem, dehidrasi fatal dapat terjadi hanya dalam hitungan jam.
Di sisi lain, tubuh memiliki toleransi yang jauh lebih panjang terhadap ketiadaan makanan, asalkan kebutuhan air tetap terpenuhi.
Berbagai catatan medis menunjukkan manusia bisa bertahan hidup tanpa makan selama tiga minggu hingga lebih dari satu bulan. Kemampuan menahan lapar ini sangat bergantung pada cadangan lemak dan laju metabolisme bawaan masing-masing orang.
Ketika asupan kalori terhenti, tubuh melakukan serangkaian adaptasi bertahan hidup secara bertahap. Pada 24 jam pertama, tubuh mengonsumsi sisa glikogen yang tersimpan di dalam hati dan otot sebagai sumber energi.
Begitu cadangan glikogen terkuras habis, tubuh mulai mencari alternatif energi lain dengan memecah jaringan lemak. Proses pembakaran lemak ini menghasilkan senyawa keton yang digunakan untuk memberi tenaga pada otak dan organ vital lainnya, sebuah fase yang dikenal dengan nama ketosis.
Fase kritis terjadi ketika seluruh lapisan lemak dalam tubuh telah habis terpakai. Sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan organ-organ penunjang kehidupan, tubuh terpaksa memecah jaringan protein yang menyusun otot.
Hal ini mengakibatkan penyusutan massa otot secara drastis, termasuk melemahnya otot jantung. Kematian pada kasus kelaparan kronis umumnya tidak terjadi secara langsung karena ketiadaan kalori, melainkan karena gagal jantung atau infeksi parah akibat runtuhnya sistem kekebalan tubuh.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Efek Dehidrasi Manusia Tanpa Air Kekurangan Cairan



























