Minggu, 16/08/2026 02:39 WIB

Dipengaruhi Lingkaran Pro-Zionis, Trump Dinilai Nekat Serang Iran





Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman, menegaskan bahwa narasi ancaman nuklir yang dihembuskan Gedung Putih hanyalah dalih yang dibuat-buat.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Yulianti Sulaeman (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kebijakan agresif Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang nekat menyerang Iran dinilai tidak didasari oleh isu pengayaan nuklir semata, melainkan akibat tekanan dan bisikan kuat dari kepentingan geopolitik Israel.

Iran terbukti memiliki ketahanan militer serta strategi kuncinya di Selat Hormuz yang membuat Negeri Paman Sam terjebak dalam perang attrition (artikulasi biaya & urat saraf) yang berkepanjangan.

Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman, menegaskan bahwa narasi ancaman nuklir yang dihembuskan Gedung Putih hanyalah dalih yang dibuat-buat (fabricated rationale).

Sebab, reaktor nuklir Iran sebelumnya telah diklaim hancur pada pertengahan 2025, namun kembali dijadikan alasan perang di awal 2026.

"Kalau kita lihat kronologinya, di perang 12 hari Juni 2025, Trump itu sudah bilang Iran sudah tidak punya nuklir lagi, kita sudah berhasil menghancurkannya. Lalu tiba-tiba di 2 Februari 2026 dia bilang perang ini untuk menghancurkan nuklir Iran. Artinya ada kebohongan yang dilakukan. Ini alasan yang dibuat-buat," ujar Dina Sulaeman saat diwawancarai via telepon, pada Jumat (14/8).

Menurut Dina, motif utama yang mendorong AS nekat melancarkan serangan militer adalah komitmen historis Washington untuk menjaga keamanan Israel sebagai prioritas utama kebijakan luar negerinya.

Iran diposisikan sebagai target utama karena dukungannya yang konsisten terhadap kelompok-kelompok perlawanan kawasan seperti Hizbullah, Hamas, dan Ansarullah (Houthi) Yaman yang dinilai mengancam keberadaan Israel.

"Alasan yang sebenarnya yang menyebabkan Amerika Serikat akhirnya nekat menyerang Iran adalah karena Iran membantu kelompok-kelompok perlawanan di kawasan yang semuanya itu mengancam Israel. Sementara kebijakan luar negeri AS menjadikan keamanan Israel sebagai prioritas," kata Dina.

Dina membeberkan bahwa keputusan fatal Trump melancarkan perang mengabaikan penolakan dari lembaga intelijen resminya sendiri, seperti Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Council (NSC).

Trump justru lebih memilih menelan mentah-mentah dorongan perang dari lingkaran terdekatnya yang pro-Zionis.

"Trump sendiri sudah mengakui bahwa dia memutuskan perang itu karena informasi dari Kushner, menantunya sama Witkoff. Dan dua-duanya ini Yahudi Zionis. Sementara kalau dari CIA sendiri dan Dewan Keamanan Nasional Amerika, itu tidak setuju dengan perang. Tapi Trump memilih menerima dorongan perang dari pihak Israel," tuturnya.

Mengenai dinamika militer di lapangan, penguasaan Iran atas Selat Hormuz menjadi faktor penentu utama mengapa Washington tidak mampu menundukkan Teheran dengan cepat.

Celah selat selebar 40 kilometer tersebut merupakan urat nadi energi global yang dilalui sekitar 25 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Iran telah mendesain armada militirnya secara khusus, menggunakan kapal-kapal cepat berukuran kecil serta rudal anti-kapal jarak pendek untuk mengontrol dan menutup jalur maritim tersebut jika diserang.

"Kemampuan Iran untuk menjaga Selat Hormuz ini yang membuat Iran sampai hari ini bisa bertahan dan tidak bisa dikalahkan oleh Amerika Serikat. Karena selatnya kecil, 40 kilometer, persenjataan Iran sudah didesain untuk situasi seperti itu: kapal-kapalnya kecil, ada rudal anti-kapal yang menghalangi kapal yang nekat lewat tanpa izin Iran," kata Dina.

Dalam analisisnya terkait prospek konflik, Dina memprediksi Amerika Serikat pada akhirnya akan terpaksa menarik diri dari kawasan Timur Tengah.

Faktor utamanya adalah pembengkakan anggaran perang, krisis pasokan persenjataan, serta tingginya penolakan publik di dalam negeri AS.

"Dalam situasi seperti ini siapa yang lebih mampu bertahan? Ya pasti Iran. Karena Amerika Serikat hanya dengan mengancam dan bertahan di Timur Tengah itu uangnya keluar terus, bujetnya mengalir terus. Sementara Iran ada di tanahnya sendiri. Jadi yang lebih bisa bertahan lama itu justru Iran," ucapnya.

Dina menambahkan, tekanan politik menjelang Pemilu Sela (Midterm Elections) di AS pada November 2026 diproyeksikan akan semakin menyudutkan posisi Partai Republik, yang pada akhirnya akan memaksa AS menghentikan opsi militernya sebagaimana pengalaman historis di Perang Vietnam dan Afghanistan.

KEYWORD :

Amerika Serikat Timur Tengah Amerika vs Iran Dina Sulaeman




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :