Jum'at, 10/07/2026 15:14 WIB

ILO Tepis Spekulasi AI Pengaruhi Puluhan Juta Pekerja ASEAN





ILO menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi kuat bahwa teknologi tersebut memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan karya ilmiah (Foto: Earth)

Bangkok, Jurnas.com - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) diprediksi mampu mengubah pola kerja hampir 80 juta penduduk di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Meski demikian, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi kuat bahwa teknologi tersebut memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Dalam laporan terbarunya pada Rabu (8/7), ILO memaparkan bahwa sebanyak 22,9 persen dari total tenaga kerja di negara-negara ASEAN, atau sekitar 80 juta pekerja, berada di sektor pekerjaan yang berpotensi terbantu atau diotomatisasi sebagian tugasnya oleh kehadiran AI.

Dari jumlah tersebut, sekitar 11,7 juta orang atau 3,3 persen dari total pekerja menempati posisi yang diklasifikasikan masuk dalam kategori paling rentan terpapar AI.

Di sisi lain, sekitar 67 persen angkatan kerja masih terpusat pada bidang-bidang yang dinilai kebal atau tidak memiliki keterpaparan terhadap teknologi mutakhir ini.

Menariknya, serapan tenaga kerja pada profesi-profesi yang paling berpeluang digantikan atau didukung oleh AI justru terus mencatatkan pertumbuhan sejak 2017, bahkan setelah kemunculan AI generatif.

Tren positif ini mengisyaratkan bahwa teknologi tersebut belum menciptakan disrupsi karier yang meluas. Berdasarkan data riset, deretan profesi yang paling banyak bersinggungan dengan AI meliputi pialang keuangan, analis keuangan, serta pengembang multimedia.

"Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja dari pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif mungkin semakin mengubah tugas dan proses kerja," demikian data resmi ILO.

Walaupun AI generatif terbukti ampuh dalam mendongkrak produktivitas berbagai tugas perorangan, peningkatan tersebut rupanya belum membuahkan perubahan yang terukur secara nyata pada sektor ketenagakerjaan maupun produktivitas secara umum.

Fenomena yang digambarkan ILO ini tampak bertolak belakang dengan langkah pemangkasan pegawai akibat otomatisasi AI yang belum lama ini diumumkan oleh sejumlah raksasa teknologi, seperti Meta Platforms Inc. maupun anak perusahaan Sea Ltd, Shopee.

Ketika sebagian perusahaan mulai mengurangi posisi atau merombak formasi karyawan demi mengadopsi kecerdasan buatan, ILO justru menemukan fakta bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor yang paling terekspos AI terus meluas di seantero Asia Tenggara.

Singapura menduduki peringkat teratas dengan persentase pekerja terpapar AI terbesar, yakni menyentuh 42,2 persen dari total angkatan kerja nasionalnya. Posisi tersebut kemudian disusul secara berurutan oleh Filipina, Indonesia, Vietnam, lalu Thailand.

Singapura juga dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kesiapan AI tertinggi berkat sokongan infrastruktur digital yang mapan, ketersediaan talenta berbakat yang mumpuni, serta pendekatan strategis pemerintah yang terpadu dan terkoordinasi.

Menyikapi perkembangan ini, ILO mendesak pemerintah di setiap negara untuk mengokohkan tata kelola AI, serta mengintegrasikan kebijakannya dengan memprioritaskan pendekatan yang berpusat pada manusia. Langkah krusial ini dinilai sangat esensial guna memfasilitasi proses adaptasi bagi para pekerja sekaligus pelaku usaha.

"Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja masa depan akan lebih sedikit bergantung pada paparan saja dibandingkan dengan pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan institusi untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI," papar ILO.

KEYWORD :

Dampak AI pada Pekerjaan Tenaga Kerja Riset ILO




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :