Kompleks parlemen Britania Raya, Palace of Westminister, di Inggris (Foto: AFP)
London, Jurnas.com - Sebuah laporan survei terbaru mengungkapkan bahwa dua dari lima warga Inggris meyakini umat Islam tidak mampu membaur ke dalam masyarakat setempat.
Dikutip dari The Guardian pada Rabu (8/7), riset yang dipimpin oleh mantan penasihat pemerintah untuk urusan ekstremisme, Sara Khan, juga menemukan fakta bahwa lebih dari separuh penduduk Inggris merasa identitas nasional negara mereka perlahan pudar akibat adanya keberagaman.
Hasil ini bertolak belakang dengan fakta di lapangan, mengingat data menunjukkan 85 persen kelompok Muslim di Inggris justru mendukung upaya integrasi.
Kajian yang dilakukan oleh Khan yang mundur dari jabatannya sebagai komisaris penanggulangan ekstremisme pertama di Inggris pada 2024, memberikan peringatan bahwa sentimen ekstrem di negara tersebut semakin dipicu oleh campur tangan pihak asing yang bermusuhan serta oknum-oknum jahat di dalam negeri.
Tercatat sekitar 1.784 agenda kelompok sayap kanan dan 225 kegiatan Islamis terjadi di seluruh pelosok negeri dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Saat merilis laporan berjudul "Britain Under Strain: The Broken Social Contract, Democratic Distrust and the Mainstreaming of Extremism", Khan menyampaikan bahwa peluang bagi seorang perdana menteri untuk menangani perpecahan dan kebencian sangatlah kecil.
Pada musim semi tahun ini, jajak pendapat yang melibatkan lebih dari 4.000 responden dewasa oleh More in Common mendapati bahwa 28 persen masyarakat setuju untuk mengabaikan aturan maupun institusi yang menghambat laju perubahan.
Selain itu, 61 persen responden lainnya beranggapan bahwa kontrak sosial yang mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap norma dan lembaga di Inggris, telah hancur.
"Tantangan yang kini kita hadapi lebih serius, dan lebih mengakar, dibandingkan saat saya menjabat sebagai komisaris penanggulangan ekstremisme. Ini bukan penurunan kepercayaan yang akan berlalu, melainkan krisis struktural sebagai akibat dari pengikisan kepercayaan yang kronis terhadap berbagai institusi," kata Khan.
"Celah untuk menangani hal ini sangatlah kecil. Perdana menteri yang baru harus mengatasi masalah-masalah ini sebelum kecemasan kontrak sosial kita menghancurkan nilai-nilai demokrasi kita," dia menambahkan.
Lebih jauh lagi, laporan tersebut menemukan bahwa 31 persen warga Inggris memiliki kecenderungan untuk membenarkan pandangan bahwa kelompok nonkulit putih tidak akan pernah menjadi se-Inggris penduduk kulit putih.
Di samping itu, 33 persen partisipan menyetujui gagasan remigrasi. Sementara itu, persentase kalangan yang meragukan kemampuan Muslim untuk beradaptasi dalam komunitas Inggris melonjak hingga angka 71 persen di antara para simpatisan partai Reform UK.
"Apa artinya menjadi orang Inggris, dan milik siapa identitas itu, telah menjadi garis patahan yang nyata, tidak terbatas pada satu kelompok politik, generasi, atau wilayah manapun. Kekhawatiran bahwa keberagaman mengikis identitas nasional kini menjadi pandangan arus utama yang dianut oleh mayoritas warga Inggris," ujar dia.
Sebaliknya, laporan itu menyoroti adanya perbedaan mencolok saat kelompok Muslim Inggris disurvei secara khusus. Sekitar 88 persen menyatakan bahwa mereka bisa berbaur dengan nyaman bersama penganut agama lain, dan 85 persen mengaku merasa memiliki kebebasan dalam menjalankan ibadah mereka.
Akan tetapi, 64 persen dari penganut Muslim Inggris mengakui adanya perasaan bahwa warga kulit putih bekerja melawan umat Muslim, dan 56 persen berpandangan serupa terhadap orang Yahudi.
Bahkan, 27 persen lainnya menyatakan keyakinan mereka bahwa tragedi Holocaust merupakan sesuatu yang dibuat-buat atau dibesar-besarkan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Survei Agama Islamofobia Inggris Riset Sara Khan



















