Senin, 11/05/2026 02:36 WIB

Meneladani Rasulullah, Doa Saat Wukuf di Padang Arafah





Kala wukuf di Arafah diyakini sebagai waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa dan dzikir

Ilustrasi - Hari Arafah, serta amalan-amalan di hari Arafah yang dianjurkan (Foto: Wahdah Islamiyah)

Jakarta, Jurnas.com - Puncak ibadah haji mencapai momentum sakralnya saat jutaan jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Sebagai rukun haji yang paling utama, waktu wukuf di Arafah diyakini sebagai waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa dan dzikir kepada Allah SWT, bahkan Rasulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” (HR Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa waktu wukuf di Padang Arafah adalah saat paling agung dalam seluruh rangkaian manasik haji. Karena secara tidak langsung momentum di Arafah ini menjadi bagian inti dari haji itu sendiri.

Biasanya pada hari Arafah para jamaah haji berkumpul dalam keadaan tunduk, penuh harap, memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan tangisan taubat di hadapan Allah SWT.

Namun, di antara dzikir dan doa paling utama yang sangat dianjurkan dibaca ketika berada di Arafah adalah dzikir tauhid yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Dalam kitab Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah mencatat riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

أَكْثَرُ دُعَائِي وَدُعَاءِ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي بِعَرَفَةَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Doa yang paling banyak aku panjatkan dan begitu juga para nabi sebelumku di Hari Arafah adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

Kelanjutan hadis ini disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah ada doa lainnya yang berbunyi sebagaimana berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا، اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسْوَاسِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الْأَمْرِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَمِنْ شَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada pendengaranku, dan cahaya pada penglihatanku. Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati yang buruk, dari kekacauan urusan, dan dari fitnah kubur. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang masuk pada malam hari, dari keburukan yang masuk pada siang hari, dari keburukan yang dibawa oleh hembusan angin, dan dari segala bencana serta malapetaka zaman.” (Al-Mushannaf [Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam], juz 6, h. 84)

Dalam periwayatan yang berbeda namun substansinya sama, hadis tentang dzikir sebagaimana disebutkan di atas, dicatat juga oleh ath-Thabrani dalam Ad-Du‘a’, at-Tirmidzi dalam As-Sunan, dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa’.

Adapun yang paling kuat riwayatnya adalah dzikir tauhid tersebut tanpa disertai doa. Menurut sebagian ulama, dzikir tauhid itu sendiri sudah mengandung doa.

Karena itu, dzikir yang dianjurkan untuk dibaca di Arafah, dianjurkan pula sebaiknya juga dibaca oleh siapa pun pada Hari Arafah di mana pun berada.

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami‘ at-Tirmidi, Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa hadis terkait dzikir di Hari Arafah tersebut memiliki sanad yang hasan atau baik, bahkan juga ditegaskan dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang para perawinya tsiqah.

Sumber: MUI

KEYWORD :

Hari Arafah Wukuf Haji Doa Arafah Ibadah Haji Haji 2026




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :