Menko PM Muhaimin Iskandar memberikan keterangan pers usai mempimpin Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dihadiri Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya di MBloc Space, Jakarta, Senin (04/05/2026) sore (Foto: Istimewa/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar menegaskan peran strategis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif sebagai instrumen utama pemerintah dalam menekan kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Usai memimpin rapat koordinasi bersama Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya pada Senin (4/5), Menko PM menyebut penguatan UMKM dan ekraf menjadi kunci untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
"Inilah yang menjadi kewajiban kita agar penanggulangan kemiskinan ekstrem dan penanggulangan kemiskinan bisa kita gerakan secara masif melalui kegiatan UMKM dan ekonomi kreatif," ujar Menko Muhaimin.
Menko PM juga mengatakan bahwa pemerintah menargetkan hingga 2029 sedikitnya 10 juta masyarakat dapat terserap ke dalam pekerjaan formal
atau menjadi pelaku usaha mandiri.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menghapus kemiskinan ekstrem pada 2026 dan menurunkan angka kemiskinan nasional hingga maksimal 5 persen pada 2029.
“Insya Allah kita akan bekerja terus untuk itu dan melalui UMKM dan ekonomi kreatif kita yakin kita bisa menggerakkan potensi yang dimiliki masyarakat untuk berdaya dan mandiri,” ujarnya.
Dalam mendukung target tersebut, pemerintah di antaranya mengandalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama pembiayaan UMKM.
Sementara itu, Menteri UMKM menyampaikan, hingga awal Mei 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai sekitar Rp96 triliun kepada 1,5 juta debitur.
Disebutkan, sebagian besar penyaluran ini menyasar sektor mikro, termasuk kelompok masyarakat pada desil 1 sampai 4 yang menjadi prioritas pengentasan kemiskinan ekstrem.
"Jadi di sektor mikronya itu sebesar kurang lebih Rp70 triliunan. Sektor mikro ini berkontribusi terhadap upaya kita untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem. Karena sebagian besar yang bekerja di situ, itu rata-rata juga ibu-ibu keluarga-keluarga kita yang memang masuk dalam kategori miskin ekstrem," ujarnya.
Meski pembiayaan meningkat, ia menilai tantangan terbesar UMKM saat ini bukan hanya modal, tetapi juga akses pasar. Maman menegaskan, banyak pelaku UMKM sudah mampu memproduksi barang, namun kesulitan menjual di pasar akibat persaingan, termasuk dari produk impor.
Karena itu, lanjutnya, pembiayaan harus berjalan seiring dengan penguatan pasar. Kalau tidak, risiko kredit macet akan meningkat. "Nah inilah makanya kementerian UMKM kalau bicara tentang skema pembiayaan, jalannya seiringan antara aspek pembiayaan dengan aspek sterilisasi pasar".
Sebagai langkah konkret, pemerintah juga mendorong implementasi aturan alokasi minimal 40 persen ruang usaha bagi UMKM di fasilitas publik milik pemerintah, BUMN, dan daerah. Selain UMKM, sektor ekonomi kreatif juga menjadi perhatian, terutama di daerah dan desa.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menko PM Muhaimin Iskandar Penguatan UMKM Ekonomi Kreatif Kemiskinan Ekstrem
























