Ilsutrasi - Memuliakan buruh atau pekerja (Foto: Gurusiana)
Jakarta, Jurnas.com - Keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya tercermin dalam dakwah, tetapi juga dalam sikapnya terhadap manusia, termasuk kaum pekerja. Salah satu kisah yang sering dikutip adalah ketika Rasulullah memuliakan seorang buruh dengan cara sarat makna.
Dikisahkan, peristiwa itu terjadi sepulang dari Perang Tabuk, saat Rasulullah SAW memasuki Madinah dan melihat seorang lelaki dengan telapak tangan kasar dan kehitaman. Kondisi itu menarik perhatian Ar -Rasul, hingga akhirnya menanyakan penyebabnya.
Lelaki tersebut menjelaskan bahwa ia bekerja setiap hari membelah batu untuk dijual di pasar demi menafkahi keluarga. Mendengar jawaban itu, Rasulullah langsung mencium tangannya sambil menyatakan bahwa tangan tersebut tidak akan disentuh api neraka.
Dikutip dari berbagai sumber, kisah ini menegaskan bahwa kemuliaan dalam Islam tidak diukur dari status sosial atau jenis pekerjaan. Sebaliknya, kerja keras yang halal dan niat untuk menafkahi keluarga justru menjadi sumber kemuliaan di hadapan Allah SWT.
Lebih jauh, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa kerja keras dapat bernilai ibadah yang tinggi. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa seseorang yang bekerja untuk menghidupi anak, merawat orang tua, atau menjaga diri dari meminta-minta termasuk dalam kategori fi sabilillah.
Ini Sejarah Haji dalam Islam, Muslim Wajib Tahu
Makna ini memperluas pemahaman tentang ibadah yang tidak terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup aktivitas ekonomi yang dilakukan dengan niat yang benar. Dengan demikian, pekerjaan sehari-hari dapat menjadi jalan spiritual jika dijalankan dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Di sisi lain, ajaran ini juga mengandung pesan tegas tentang larangan bergantung pada orang lain tanpa alasan yang sah. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, meminta-minta tanpa kebutuhan mendesak digambarkan sebagai perbuatan yang merendahkan martabat diri.
Karena itu, Islam menempatkan kerja keras sebagai pilihan yang lebih mulia dibanding bergantung pada belas kasihan. Nilai ini menjadi fondasi etika kerja yang relevan hingga saat ini, terutama di tengah stigma terhadap pekerjaan kasar.
Kisah Rasulullah SAW mencium tangan buruh pembelah batu menjadi simbol penghormatan terhadap setiap profesi yang halal. Ia mengajarkan bahwa setiap tetes keringat memiliki nilai ibadah dan setiap tangan yang bekerja layak dihormati.
Kisah ini bukan sekadar fragmen sejarah, melainkan pesan moral yang melintasi zaman. Di tengah dunia modern, nilai tentang kerja keras, kemandirian, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan bermartabat. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Kisah Inspiratif Rasulullah SAW Memulikan Buruh Kaum Pekerja Pembelah Batu


























