Anak-anak Palestina di Gaza (Foto: EPA)
Gaza, Jurnas.com - Serangan udara Israel menargetkan sekelompok warga sipil di bagian utara Jalur Gaza pada Rabu (22/4) malam, menewaskan sedikitnya lima warga Palestina. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa serangan tersebut terjadi di dekat masjid Al-Qassam di Beit Lahia.
Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa di antara para korban terdapat tiga orang anak-anak. Jenazah para korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.
Dikutip dari Aljazeera pada Kamis (23/4), insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat sejak Oktober lalu.
Kantor media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa Israel telah melakukan sekitar 2.400 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Bentuk pelanggaran yang dilaporkan meliputi serangan terarget, penangkapan, blokade, hingga kebijakan kelaparan paksa terhadap penduduk Gaza.
"Lebih dari 20.000 anak tewas akibat serangan pasukan Israel di Gaza dalam dua tahun perang. Rata-rata, setidaknya satu anak tewas setiap jam, dengan lebih dari 1.000 di antaranya berusia di bawah satu tahun," demikian laporan Save the Children pada September lalu.
Situasi ini senada dengan pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang sejak akhir 2023 telah menjuluki Gaza sebagai kuburan bagi anak-anak.
Sementara itu, lembaga UN Women melaporkan bahwa rata-rata 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap harinya selama konflik berlangsung. Antara Oktober 2023 hingga Desember 2025, total korban jiwa dari kelompok ini mencapai lebih dari 38.000 orang.
Meskipun secara formal berada dalam periode gencatan senjata, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 786 warga Palestina telah tewas sejak kesepakatan Oktober diberlakukan.
Khusus pada April ini, sedikitnya 32 orang tewas, termasuk jurnalis Al Jazeera Mohammed Wishah yang gugur dalam serangan pesawat nirawak (drone) pada 8 April lalu.
Selain serangan militer, Israel juga dituduh melanggar kesepakatan dengan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan yang telah disepakati.
Sekitar 2,4 juta warga Palestina, di mana 1,5 juta di antaranya merupakan pengungsi, kini bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat terbatasnya stok makanan, obat-obatan, dan bahan bangunan untuk tempat tinggal di tengah blokade yang masih berlangsung.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Udara Israel Pelanggaran Gencatan Senjata Krisis Kemanusiaan


























