Ilustrasi krisis obat-obatan di Sudan (Foto: AP)
Qoz Nafisa, Jurnas.com - Krisis kemanusiaan di Sudan, yang telah dihantam perang saudara selama tiga tahun, kini semakin diperparah oleh konflik di Timur Tengah.
Penutupan jalur pelayaran vital akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memutus pasokan obat-obatan dan bantuan pangan ke wilayah-wilayah paling rentan di dunia, termasuk desa Qoz Nafisa di negara bagian Khartoum.
Abbas Awad (61), seorang warga yang menderita glaukoma, terpaksa menjarangkan konsumsi obatnya karena kelangkaan dan lonjakan harga yang drastis. Masalah ekonomi yang sebelumnya sudah sulit akibat perang domestik, kini kian terhimpit oleh situasi geopolitik global.
"Sekarang kami menghadapi masalah perang di Timur Tengah. Hal itu hanya membuat segalanya menjadi lebih buruk," ujar Awad dikutip dari Associated Press pada Kamis (23/4).
Lembaga bantuan melaporkan bahwa kebuntuan antara AS dan Iran yang menutup Selat Hormuz telah mengacaukan jalur distribusi dari pusat logistik strategis seperti Dubai.
Menurut laporan PBB, terjadi kenaikan biaya pengiriman hingga 20 persen akibat lonjakan harga bahan bakar dan tarif asuransi, serta keterlambatan distribusi karena barang harus dialihkan melalui rute yang lebih jauh.
International Rescue Committee (IRC), yang mendukung klinik di Qoz Nafisa, mengungkapkan bahwa pasokan farmasi senilai US$130.000 sempat terdampar di Dubai selama berminggu-minggu.
Pasokan medis seperti antibiotik dan obat pereda nyeri yang seharusnya diterbangkan langsung dari Uni Emirat Arab ke Port Sudan, terpaksa dikirim melalui jalur darat ke Oman sebelum akhirnya bisa diterbangkan keluar.
Di klinik Qoz Nafisa, dampaknya sangat terasa bagi sekitar 5.000 warga yang bergantung pada fasilitas tersebut. Dr. Amira Sidig selaku direktur medis menyebut pengiriman bantuan yang dijadwalkan pada Februari dan April belum kunjung tiba, yang menyebabkan kekosongan stok.
Selama beberapa hari pada bulan ini, klinik kehabisan obat malaria, padahal penyakit tersebut menjangkiti 50 persen pasien yang datang. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Sudan hanya mampu menutupi separuh dari total kebutuhan medis, yang segera habis dalam waktu singkat.
Meskipun Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata minggu ini, kelompok bantuan khawatir hal itu tidak akan membawa perubahan instan. Madiha Raza dari IRC menekankan bahwa hambatan dalam sistem logistik masih terjadi, dan setiap penundaan pengiriman makanan serta obat-obatan di Sudan memiliki konsekuensi yang mematikan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
risis Kemanusiaan Sudan Perang AS vs Iran Blokade Selat Hormuz


























