Kapal gas alam cair lewat di Selat Hormuz (Foto: Reuters)
Teheran, Jurnas.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah pasukan paramiliter Garda Revolusi Iran menembaki tiga kapal dan menyita dua di antaranya pada Rabu (22/4) kemarin.
Insiden ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, namun tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tindakan Iran merupakan respons atas blokade AS yang dianggap merusak esensi perdamaian.
"Gencatan senjata yang lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata tersebut," ujar Ghalibaf di platform X, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Kamis (23/4).
Media Iran melaporkan bahwa dua kapal yang disita, MSC Francesca (berbendera Panama) dan Epaminondas (terdaftar di Liberia), sedang dikawal menuju perairan Iran. Pihak manajemen Epaminondas melaporkan kapal mereka ditembaki oleh kapal cepat bersenjata di lepas pantai Oman yang menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan (bridge).
Meskipun terjadi penyitaan, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan bahwa tindakan tersebut secara teknis tidak melanggar ketentuan gencatan senjata karena kapal yang disita bukan milik AS atau Israel, melainkan kapal internasional. Sejak perang pecah pada 28 Februari, tercatat telah terjadi lebih dari 30 serangan terhadap kapal di wilayah tersebut.
Konflik maritim ini telah melumpuhkan ekspor melalui jalur yang dilewati 20 persen pasokan minyak dunia pada masa damai. Harga minyak mentah Brent melonjak melampaui $100 per barel, naik 35 persen dari level sebelum perang.
Sementara itu, Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, memperkirakan gangguan ini merugikan Eropa sekitar 500 juta euro setiap harinya.
Di saat yang sama, situasi di Lebanon Selatan tetap mencekam. Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk seorang koresponden surat kabar Al-Akhbar, Amal Khalil, di desa Al-Tiri.
Israel menuduh adanya pelanggaran gencatan senjata di area tersebut, sementara pihak Lebanon melaporkan pasukan Israel sempat menembaki ambulans yang mencoba mengevakuasi korban.
Selain itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi kematian seorang penjaga perdamaian Prancis akibat luka-luka dalam serangan di Lebanon akhir pekan lalu, yang dia tuduhkan kepada kelompok Hizbullah.
Sejak awal perang, total korban jiwa terus meningkat dengan rincian setidaknya 3.375 orang tewas di Iran, lebih dari 2.290 di Lebanon, 23 di Israel, dan belasan lainnya di negara-negara Teluk Arab. Sebanyak 13 personel militer AS juga dilaporkan gugur di seluruh kawasan selama konflik berlangsung.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Blokade Selat Hormuz Konflik Timur Tengah Perang AS vs Iran


























