Kamis, 16/04/2026 23:29 WIB

Asal Usul Harlah PMII yang Diperingati Setiap 17 April





Setiap tanggal 17 April, dunia pergerakan mahasiswa di Indonesia memperingati hari lahir salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di tanah air, yakni PMII

Arsip - Presiden Indonesia, Prabowo Subianto di Harlah ke-63 PMII (Foto: Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 17 April, dunia pergerakan mahasiswa di Indonesia memperingati hari lahir salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di tanah air, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Organisasi yang identik dengan lambang perisai kuning biru ini memiliki akar sejarah yang kuat dalam dinamika sosial-politik Indonesia, khususnya dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU).

Lahirnya PMII pada 17 April 1960 di Surabaya tidak terjadi secara instan. Sebelum PMII terbentuk, mahasiswa nahdliyin bernaung di bawah organisasi bernama Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang berdiri pada 1955.

Namun, keberadaan IMANU sempat tidak direstui secara formal oleh PBNU karena dikhawatirkan akan memecah konsentrasi organisasi di bawah naungan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Hasrat mahasiswa NU untuk memiliki wadah sendiri yang lebih spesifik mengelola intelektualitas di tingkat universitas terus menguat. Hal ini didorong oleh situasi politik pada masa itu yang menuntut mahasiswa untuk lebih aktif dalam berorganisasi demi menjaga ideologi dan peran sosial.

Titik terang muncul pada Konferensi Besar IPNU di Kaliurang, Yogyakarta, tahun 1960. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan untuk mengadakan musyawarah mahasiswa NU se-Indonesia.

Puncaknya, pada 14-16 April 1960, sebanyak 13 tokoh mahasiswa NU dari berbagai daerah berkumpul di Gedung Madrasah Muallimin NU (Gedung Yayasan Taman Pendidikan NU), Wonokromo, Surabaya.

Ketiga belas tokoh tersebut yang kemudian dikenal sebagai pendiri PMII merumuskan visi, misi, hingga nama organisasi.

Tepat pada tanggal 17 April 1960, organisasi ini secara resmi dideklarasikan. Mahbub Djunaidi, seorang sastrawan dan wartawan terkemuka, terpilih sebagai Ketua Umum pertama Pengurus Besar PMII. Di bawah kepemimpinan Mahbub, PMII berkembang pesat dan mulai mengambil peran penting dalam kancah perpolitikan nasional, termasuk saat masa transisi Orde Lama ke Orde Baru.

Satu fakta sejarah yang tidak boleh dilupakan adalah peristiwa Deklarasi Murnajati pada tahun 1972. Pada saat itu, PMII secara resmi menyatakan independen secara struktural dari organisasi induknya, Nahdlatul Ulama.

Meskipun secara ideologis tetap memegang teguh nilai-nilai ke-NU-an, secara administratif PMII memilih jalan mandiri untuk lebih leluasa dalam bermanuver di kancah mahasiswa.

Hingga saat ini, PMII terus menjadi inkubator bagi lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa, cendekiawan, hingga politisi.

Peringatan 17 April setiap tahunnya menjadi pengingat bagi seluruh kader bahwa PMII lahir dari rahim perjuangan intelektual yang berakar pada semangat religiusitas dan kebangsaan yang tak terpisahkan.

13 Tokoh pendiri PMII antara lain Cholid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), Mansyur Chumaidi (Yogyakarta), M. Khalid Narbuko (Surabaya), dan beberapa tokoh representatif dari daerah lain di Indonesia.

KEYWORD :

17 April Peringatan Nasional Hari Lahir Organisasi PMII




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :