Rabu, 15/04/2026 20:00 WIB

Bamsoet Ajak Puteri Anak dan Remaja Bali Sebarkan Vaksin Ideologi





Membangun wawasan kebangsaan di era digital mempunyai tantangan yang lebih kompleks.

Ketua MPR, Bambang Soesatyo menerima Puteri Anak dan Remaja Indonesia Bali 2022 di Bali, Selasa (13/9/22). (Foto: Humas MPR)

Bali, Jurnas.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, bahwa perkembangan media informasi, media sosial dan komunikasi yang berkembang pesat telah mendorong percepatan proses diseminasi informasi yang nyaris tanpa batas. Derasnya arus globalisasi yang ditopang pesatnya kemajuan teknologi informasi, telah mengantarkan pada era disrupsi, era digital, era `the internet of things`, dan turut menghadirkan berbagai tantangan kebangsaan yang muncul dengan berbagai dimensinya.

"Karenanya, membangun wawasan kebangsaan di era digital mempunyai tantangan yang lebih kompleks. Loncatan kemajuan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, disisi lain lain juga berpotensi menghasilkan residu dan dampak negatif pada dimensi kehidupan kebangsaan kita. Fenomena ini dapat dirasakan dalam bentuk melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, demoralisasi generasi muda bangsa, tergerusnya kearifan lokal dan nilai-nilai luhur adat budaya bangsa, serta hadirnya faham-faham dan produk-produk yang dikemas menarik, khususnya bagi generasi muda," ujar Bamsoet usai menerima Puteri Anak dan Remaja Indonesia Bali 2022 di Bali, Selasa (13/9/22).

Bamsoet menjelaskan, berdasarkan data Digital Report 2021, diperkirakan bahwa pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 telah mencapai 202,6 juta jiwa. Artinya, akses publik terhadap layanan koneksi internet jangkauannya semakin luas, walaupun dari aspek pemerataan belum optimal.

"Namun sayangnya, besarnya angka pengguna internet tersebut tidak diimbangi dengan tingkat keadaban yang memadai. Hasil riset Digital Civility Index (DCI) menyebutkan bahwa etika dan tingkat keadaban warganet di Indonesia kian rendah. Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Rendahnya etika berinternet tersebut ditandai dengan maraknya berita bohong dan penipuan di internet sekitar 47 persen, ujaran kebencian sekitar 27 persen serta diskriminasi sekitar 13 persen," kata Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, menyikapi perkembangan dan dinamika zaman, yang dapat dilakukan hanyalah dua hal, yaitu adaptasi dan inovasi. Era digital telah `memaksa` semua pihak untuk hidup berdampingan dengan lompatan kemajuan teknologi. Di masa pandemi saat ini pun dituntut untuk memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai bagian proses adaptasi dan inovasi tersebut.

"Disinilah peran penting Puteri Anak dan Remaja Indonesia Bali 2022 untuk turut menyebarkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda. Salah satunya dengan ikut serta memasifkan pemberian vaksin ideologi berupa sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Sehingga mampu menangkal masuknya ideologi lain seperti radikalisme, ekstrimisme, hingga intoleransi yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," pungkas Bamsoet.

KEYWORD :

Kinerja MPR Bambang Soesatyo Era Disrupsi Wawasan Kebangsaan Internet




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :