Rabu, 24/04/2019 07:27 WIB

Siapa Brenton Tarrant, Peneror Dua Masjid Selandia Baru?

Tarrant memang bercita-cita menciptakan ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap Muslim.

Pelaku penembakan brutal di Masjid NewZealand

Melbourne, Australia - Pria asal Australia yang bertanggung jawab atas pembantaian umat Islam yang hendak melaksanakan salat Jumat di masjid Selandia Baru sebelumnya tidak diketahui oleh badan-badan keamanan di Australia atau Selandia Baru.

Brenton Tarrant yang menyerang dua masjid di Christchurch dan menewaskan 50 orang, termasuk anak-anak, muncul di pengadilan atas tuduhan pembunuhan pada Sabtu (16/3).

Tarrant, yang di sebut Perdana Menteri Australia, Scott Morrison sebagai teroris ekstremis, sayap kanan, dan kejam itu sangat mengagumi kaum nasionalis kulit putih yang keras. Ia memang bercita-cita menciptakan ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap Muslim.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan pada konferensi media bahwa Tarrant tidak ada dalam daftar pengawasan teroris.

"Orang ini tidak ada dalam daftar pantauan untuk Selandia Baru atau Australia," katanya.

"Apa yang saya minta dari agen (keamanan) adalah tugas lebih lanjut untuk memastikan apakah dia (Tarrant) anggota teroris atau bukan," sambungnya.

Pelatih pribadi

Seorang juru bicara Kepolisian Federal Australia (AFP) mengkonfirmasi kepada Al Jazeera pria itu tidak dikenal polisi di Australia karena ekstrimisme keras atau perilaku kriminal yang serius. Tiga tersangka lainnya ditangkap bersama dengan Tarrant pada hari Jumat, lalu polisi kembali mengkonfirmasi pria 28 tahun itu bertindak sendiri.

"Tim Counter-Terorisme NSW bersama telah memulai penyelidikan berbasis di Australia untuk membantu Polisi Selandia Baru," kata juru bicara AFP.

"Dengan penyelidikan yang sedang berlangsung, tidak pantas untuk memberikan komentar lebih lanjut," sambungnya.

Selama empat tahun terakhir, Tarrant diketahui jarang tinggal di Australia. Ia hanya tercatat pernah hanya malanggar lalu lintas kecil. Ia bekerja sebagai pelatih kebugara di Big River Gym di Grafton, kota kecil 500 km barat laut Sydney.

Setelah ayahnya meninggal pada 2011, Tarrant menggunakan warisannya untuk melakukan perjalanan internasional, termasuk ke Prancis di mana ia mengklaim melihat "invasi" imigran.

Pemilik gym, Tracey Grey mengatakan kepada media Australia, "Saya melihat yang berubah dalam dirinya setelah menghabiskan bertahun-tahun tinggal di luar negeri. Di suatu tempat di sepanjang garis, pengalaman atau kelompok telah menguasai dirinya."

Ekspektasi

"Asal-usul bahasa saya adalah Eropa, budaya saya adalah Eropa, keyakinan politik saya adalah Eropa, keyakinan filosofis saya adalah Eropa, identitas saya adalah Eropa dan, yang paling penting, darah saya adalah Eropa," tulis Tarrant dalam 74 halaman sebelum malakuka serangan di Selandia Baru.

Dalam tulisan itu, ia merinci ideologi anti-imigrasi, neo-fasis yang meratapi kemerosotan peradaban Eropa. Menggambarkan dirinya sebagai "lorang kulit putih biasa, Tarrant berspekulasi dia mungkin akan mendekam 27 tahun penjara seperti Nelson Mandela dan dianugerahi Nobel Perdamaian.

Menanggapi pertanyaannya sendiri, "Apakah ada orang tertentu yang paling meradikalisasi Anda?" Tarrant menulis: "Ya, orang yang telah mempengaruhi saya di atas segalanya adalah (komentator konservatif AS) Candace Owens. "Setiap kali dia berbicara saya terkejut dengan wawasannya dan pandangannya sendiri membantu mendorong saya lebih jauh dan lebih jauh ke keyakinan kekerasan atas kelemahlembutan ."

Profesor Greg Barton, ketua politik Islam global di Institut Alfred Deakin untuk Globalisasi & Kewarganegaraan, mencirikan Tarrant sebagai memiliki narsisme tidak sehat yang umum di antara teroris.

"Saya pikir dia tertarik oleh fantasi kelam untuk menjadi pahlawan, seperti Anders Behring Breivik, seperti penembakan masjid Kota Quebec pada Januari 2017," kata Barton.

"Senjata itu diimpor dari Australia," tambahnya, merujuk pada ideologi Islamofobia yang memotivasi serangan itu.

Meskipun dikenal memiliki politik yang lebih moderat, Selandia Baru memiliki undang-undang senjata yang relatif longgar dibandingkan dengan tetangganya yang lebih besar.

Teror sayap kanan

Saat ditanya mengapa pelaku tidak akan berada dalam daftar pengawasan terorisme, Barton mengatakan, "ada begitu banyak orang memposting hal-hal serupa yang diposting Brenton Tarrant, sehingga mereka tidak mewaspadai."

Para pegiat anti-rasisme di Australia telah meningkatkan kekhawatiran dalam beberapa tahun terakhir tentang tokoh-tokoh sayap kanan seperti Tommy Robinson atau Milo Yiannopoulosseeking untuk melakukan tur keliling negara, di mana mereka mendapat banyak pendukung di media sosial.

Menteri Imigrasi Australia David Coleman mengatakan, sehari setelah kejadian itu, visa Yiannopoulos telah dicabut karena komentarnya setelah serangan Christchurch, yang menyebut Islam sebagai
barbar.

"Polisi telah memberi tahu kami selama beberapa tahun bahwa keprihatinan besar mereka yang meningkat adalah munculnya ekstremisme sayap kanan," kata Barton.

"Mereka selalu mengatakan itu bukan kasus karena belum terjadi di Australia,"sambungnya.

Menurut laporan baru-baru ini dari Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (ADL), ekstrimis domestik menewaskan 50 orang di Amerika Serikat tahun lalu - sebagian besar di antaranya dilakukan oleh para ekstremis sayap kanan.

"Supremasi kulit putih bertanggung jawab atas sebagian besar pembunuhan," katanya. (Al Jazeera)

TAGS : Selandia Baru Penembakan Islam Brenton Tarrant




TERPOPULER :