Senin, 24/09/2018 03:31 WIB

Kelangkaan Air Picu Ekstrimisme di Mesir

Mesir mengonsumsi 80 miliar kubik air per tahun. Di mana 55 miliar kubiknya dipenuhi oleh Sungai Nil.

Ilustrasi air (foto: Liputan6)

Kairo - Menteri Irigasi Mesir Abdul Ati menyebut berkurangnya dua persen air saja di negara tersebut, dapat mengancam 200.000 keluarga, yang berakibat pada ancaman ekstrimisme.

Dalam sebuah seminar yang digelar Kamar Dagang Amerika di Kairo, Abdul Ati menerangkan atas alasan itulah Mesir melakukan impor gandum dan beberapa komoditas lainnya, demi menghemat air yang digunakan untuk pertanian.

Dilansir dari Memo, Mesir mengonsumsi 80 miliar kubik air per tahun. Di mana 55 miliar kubiknya dipenuhi oleh Sungai Nil. Sisanya diupayakan dengan kompensasi dan mendaur ulang kembali air yang telah digunakan.

"Kehilangan dua persen air di mesir, setara dengan satu juta meter kubik. Artinya, ada 200.000 keluarga yang kehilangan pekerjaan, yang membuat mereka rentan terhadap bahaya laten ekstrimisme," demikian pernyataan Abdul Ati dikutip dalam Memo.

Dia berharap Mesir tak bernasib seperti Sudan Barat, yang kini mengalami krisis terorisme. Dulunya, kata Abdul Ati, Sudan juga terkena masalah kelangkaan air.

Bulan lalu, Duta Besar Sudan untuk Kairo Abdel Mahmoud Abdel Halim mengutarakan rencananya untuk mengadakan pertemuan antara Menteri Irigasi Mesir, Sudan, dan Ehiopia. Pertemuan tersebut dalam rangka membahas pembangunan bendungan di Sudan dan Ethiopia.

Abdul Ati tak keberatan dengan usul tersebut. Hanya saja, Kairo masih khawatir, pembangunan bendungan baru dapat mengurangi volumen Sungai Nil, yang notabene sumber air utama di Mesir.

TAGS : Mesir Ekstrimisme Terorisme Air Langka




TERPOPULER :