Kenaikan harga terjadi menjelang pertemuan negara-negara produsen OPEC pekan ini, yang diperkirakan menghasilkan pemangkasan produksi minyak mentah.
Rusia kabarnya semakin mantap untuk mengurangi produksi minyak sebagaimana rencana Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Para pelaku pasar sedang mengantisipasi pertemuan pemimpin dari 20 perekonomian terbesar dunia (G20) pada 30 November hingga 1 Desember 2018 di Buenos Aires, Argentina.
Sanksi AS yang diperbarui kepada eksportir ketiga terbesar OPEC, Iran, resmi berlaku pada Senin.
Minyak mentah Benchmark Brest naik 55 sen menjadi US$84,46 per barel, setelah jatuh di level terendah US$82,66 pada Senin
Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) adalah organisasi independen dan bukan cabang dari Departemen Energi AS.
Pekan lalu, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan jika produsen lain tidak dapat menutupi kekurangan produksi minyak Iran-Venezuela, harga minyak akan naik menjadi lebih dari USD80 per barel.
Di atas kertas, ada cukup banyak kapasitas cadangan minyak di antara produsen OPEC dan Rusia untuk mengimbangi penurunan pasokan Iran, hanya saja apa yang tertulis di atas kertas itu tidak akan selamanya sama.
Trump memperingatkan Eropa, Asia dan Timur Tengah segera berhenti mengimpor minyak Iran hingga nol sebelum 4 November atau menghadapi babak baru sanksi Amerika.
Bulan sebelumnya, seorang penasihat lama di Kementerian Energi Arab Saudi juga mengatakan, sanksi AS saat ini terhadap Iran tidak mungkin menghentikan ekspor minyak Iran sepenuhnya.