Angka prevalensi stunting Indonesia tahun ini turun tiga persen dari 21,6 persen menjadi 18-17,9 persen.
Menangani kemiskinan ekstrem melalui intervensi yang terpadu bisa sekaligus otomatis menurunkan prevalensi stunting.
Semakin tinggi angka TFR semakin tinggi angka prevalensi stunting. Demikian juga angka kematian bayi punya relasi yang kuat dengan tingkat prevalensi stunting.
Kerja bersama lintas sektor dan mengusung semangat Pancasila yakni gotong royong merupakan kunci keberhasilan menurunkan prevalensi stunting secara signifikan di Kota Surabaya.
Berdasarkan Hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 (SSGI 2022), angka prevalensi stunting di DKI Jakarta sudah di angka 14 persen dari total balita 799 ribu.
Salah satu beberapa faktor yang mendukung penurunan tersebut angka prevalensi stuntin tersebut, yakni 57 persen masyarakat Kota Bandar Lampung telah mengikuti program Keluarga Berencana (KB).
Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting di Indonesia masih 21,6% pada 2022.
Presiden Jokowi akan memberikan pengarahan kepada sekitar 2.637 peserta dari kementerian dan lembaga, gubernur, bupati dan walikota, tim percepatan penurunan stunting pusat dan daerah, serta organisasi kemasyarakatan dan lembaga internasional.
Seperti Karawang banyak sekali bapak asuhnya kalau kita liat datanya, kalau kita cuplik ini turun paling banyak, di Sumatera Selatan banyak bapak asuhnya juga turun signifikan kasus stuntingnya.
Prevalensi stunting di ibu kota yakni di atas 14 persen, sehingga dengan ditemukannya 19 anak yang mengalami gizi buruk tersebut dinilainya sangat wajar.