Perang dagang Amerika Serikat (AS) terhadap ekonomi China tidak berefek berarti karena Beijing mulai menemukan solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhannya.
Laut Cina Selatan adalah salah satu dari semakin banyak titik nyala dalam hubungan AS-China, meliputi perang dagang yang terus meningkat.
Sekutu AS, termasuk Jerman,mengatakan, tarif Trump bukan opsi untuk menyelesaikan masalah kedua negara tersebut.
AS resmi memberlakukan bea masuk 15 persen atas barang-barang konsumsi senilai 112 miliar dolar dari China.
Ketidakpastian kapan atau bagaimana perselisihan itu akan berakhir telah mengguncang pasar dan membuat rumit rencana investasi jangka panjang perusahaan.
Pemerintah China menyatakan bahwa pihaknya akan mengenakan tarif balasan terhadap barang-barang tambahan senilai 75 miliar dolar AS asal Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump menaikkan tarif eksisting atas produk China senilai USD250 miliar dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019.
Kesenjangan antara elit menjadi lebih jelas pada hari Jumat (23/8), ketika Trump menyiratkan bahwa kepala bank sentral AS adalah "musuh" yang lebih besar daripada Presiden China, Xi Jinping.
Donald Trump membantah bahwa perang dagangnya dengan China, akan menyebabkan gesekan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.
Trump akhirnya menyadari bahwa masalahnya bukan China yang mengirim barang-barang Tiongkok ke AS, tetapi korporasi global Washington yang sudah memindahkan produksi mereka ke pasar AS.