Mahathir Mohamad menyebut negaranya yang bergantung pada ekspor, berpeluang terkena sanksi perdagangan di tengah meningkatnya proteksionisme dalam perang tarif Amerika Serikat (AS) dan China.
Kesepakatan ini termasuk di dalamnya menuntut China meningkatkan pembelian produk pertanian AS dan perlindungan untuk kekayaan intelektual. Namun tidak dipaparkan rinciannya secara spesifik.
Trump memuji China yang berjanji akan meningkatkan pembelian produk-produk pertanian AS, ke angka menakjubkan USD40-50 miliar. Itu akan menjadi prestasi yang menakjubkan, lebih dari dua kali lipat dari level sebelumnya kurang dari USD20 miliar pada 2017.
Trump sebenarnya tidak ingin menggunakan tarif untuk membuat China mengubah praktif perdagangannya, tetapi AS terpaksa harus memberlakukannya karena Beijing tetap ngeyel.
Jika pertemuan itu tak membuahkan hasil, maka AS akan memberlakukan tarif lebih dari USD250 miliar pada impor China yang ditetapkan naik dari 25 persen menjadi 30 persen pada Selasa (15/10).
Turki mitra dagang besar AS dan anggota penting NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara).
AS memasukkan 28 perusahaan China, termasuk beberapa startup kecerdasan buatan China ke daftar hitam perdagangannya sebagai tanggapan atas dugaan penindasan terhadap etnis Uighur di provinsi otonom Xinjiang.
Dinamika perubahan ekonomi global terkait dengan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), fluktuasi harga komoditas, perang dagang dan proteksionisme, moderasi pertumbuhan di Tiongkok, maupun keamanan dan geopolitik dunia.
Entitas yang masuk daftar hitam termasuk perusahaan seperti Dahua Technology, Hikvision dan Megvii Technology yang memproduksi peralatan dan teknologi pengawasan video untuk mengidentifikasi individu melalui pengenalan wajah.
Pernyataan disampaikan hanya beberapa hari sebelum pejabat tinggi AS dan China akan memulai kembali pembicaraan perdagangan di Washington.